Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Anak Petani di Malang Diduga Bunuh Ayah 

Rabu 24 Mar 2021 00:16 WIB

Rep: Wilda Fizriyani / Red: Agus Yulianto

Tersangka pembunuhan ayah. (Ilustrasi)

Tersangka pembunuhan ayah. (Ilustrasi)

Foto: Republika/Thoudy Badai
A dilaporkan mengalami depresi selama beberapa tahun terakhir. 

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Kasus pembunuhan kembali mencuat di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim). Terbaru, seorang anak petani berinisial A diduga telah membunuh ayahnya, Tamin di Bumirejo, Dampit, Kabupaten Malang.

Kades Bumirejo Sugeng Wicaksono mengatakan, warga sekitar sempat mendengar minta tolong pada Selasa (23/3) pukul 01.00 WIB. Tetangga yang mendengar tersebut langsung menghubungi Pak Tamin, tapi tidak diangkat karena ponsel korban tertinggal di rumah istri. "Diangkatlah sama istrinya, menyampaikan Pak Tamin sedang ngetan, itu bahasa rumah sini (rumah Pak Tamin kedua yang ditempati A)," kata Sugeng kepada wartawan di Dampit, Kabupaten Malang, Selasa (23/3).

Pak Tamin memiliki kebiasaan untuk menengok anaknya di rumah kedua setiap pukul 00.00 sampai 04.00 WIB. Namun, Pak Tamin tidak kunjung kembali sehingga saudaranya pun menengoknya. Selanjutnya, Pak Tamin ditemukan dalam keadaan sudah meninggal dan bersimbah darah.

Dari penemuan ini, tetangga pun mengira teriakan minta tolong tersebut berasal dari Tamin bukan anaknya, A. "Orang itu kalau dengar suara-suara minta tolong itu A. Biasanya yang dikira itu A, tadi malam dikira ya A ini kambuh, tapi ternyata Pak Tamin," jelas Sugeng.

Menurut Sugeng, A merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. A dilaporkan mengalami depresi selama beberapa tahun terakhir. Tidak diketahui pasti alasannya di balik depresi tersebut, tapi tingkat depresi A semakin parah setelah ditinggal pisah istrinya.

Sugeng mengungkapkan, tingkat depresi A biasanya hanya diungkapkan melalui teriakan di malam hari. Namun, sekitar satu sampai dua bulan lalu, A dilaporkan sempat membawa senjata tajam sehingga dibawa ke RSJ. Tiga hari kemudian, kesehatan jiwa A dinyatakan sudah lebih baik sehingga dikembalikan ke rumah.

Pada beberapa hari terakhir, Sugeng menerima informasi dari keluarga bahwa A sedang sulit makan. Pemerintah desa sudah mengupayakan untuk merujuk A ke RSJ beberapa kali. Bahkan, membantu pengobatan alternatif, tapi kesehatan jiwa A masih belum normal kembali.

Sementara untuk posisi A saat ini, Sugeng mengaku, masih belum mengetahuinya. Aparat dan warga masih mencoba mencari keberadaan yang bersangkutan. "Karena pasca-kejadian itu, (A) sudah tidak di rumah," ucap dia.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA