Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Disadari atau tidak Kita Sedang Bertasawuf dalam Hidup

Selasa 23 Mar 2021 21:32 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Tasawuf merupakan jalan menuju kesempurnaan diri. Ilustrasi ampunan

Tasawuf merupakan jalan menuju kesempurnaan diri. Ilustrasi ampunan

Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Tasawuf merupakan jalan menuju kesempurnaan diri

REPUBLIKA.CO.ID, *Oleh Ustadz Yusuf Suharto*

Ahlussunah wal Jamaah yang kita selarasi ini adalah paham keislaman yang dianut mayoritas Muslim dunia, termasuk masyarakat Nusantara. 

Aswaja dalam bentuk yang kita saksikan bersama ini adalah kelanjutan tradisi cara berpikir dan berpraktek yang telah dijalani kaum Muslimin dari generasi ke generasi. 

Baca Juga

Islam adalah agama moderat (proposional), sehingga Ahlussunah wal Jamaah sebagai duta utama Islam tentu berkarakter moderat, dan sebagai agama penuh rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil'alamin), Islam menuntun penganutnya agar bisa senantiasa bersikap proposional atau moderat terhadap siapapun dan apapun.  

Dalam hal ini, Islam Ahlussunnah wal Jamaah (aswaja) memerankan sebagai penengah, dan pengemban amanah kerahmatan alam. Sehingga di antara praktik bersikap moderat itu adalah tidak melakukan sikap berlebihan atau mudah merespon segala sesuatu dengan sikap negatif destruktif.  

Sebagaimana dinyatakan dalam hadits sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim, agama ini mengandung tiga unsur utama, yaitu iman (akidah), Islam (fiqih), dan ihsan (tasawuf). Masing-masing unsur ini ketika berdialektika dengan konteks dan zaman melahirkan peradaban ilmu yang berkembang pesat dan dalam, yang terlembagakan dalam mazhab (pijakan ajaran). 

Masyarakat Muslim di nusantara sejak dahulu hingga kini dikenal mengikuti tiga mazhab, yaitu dalam fiqih mengikuti salah satu empat mazhab fikih, terutama Imam Syafi'i (w 204 H). Dalam akidah mengikuti Mazhab Imam Abul Hasan al-Asy'ari (w 324 H) dan Imam Abu Manshur al-Maturidy (w 333 H). Dalam tasawuf mengikuti Mazhab Imam Junaid al-Baghdadi (w 297 H), Imam Abu Hamid Al-Ghazali (w 505 H), dan yang searah. Penulis dalam hal ini menyorot tentang tasawuf. 

Dilabeli, disadari ataukah tidak, masing-masing umat Islam sedang dan menuju tasawuf sebagai jalan memperbaiki diri. Karena itu tasawuf tak mengenal usia, tua muda muda bisa asyik menjumpakan diri dengannya. Para santri muda di pesantren misalnya, jamak diketahui bahwa mereka sedang mempraktekkan jalan bertasawuf. 

Di Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang Jawa Timur, bukan pemandangan yang aneh ketika melihat para santri muda berduyun-duyun mengikuti pengajian tasawuf dan praktik ibadah masyarakat sekitar, dan tanpa canggung berbaur dengan para sepuh 

Di kampus Institut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto Jawa Timur, para mahasiswa yang dalam usia muda itu menata hati dengan cara mengaji kitab al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah kepada salah seorang dosen. Semula dengan sedikit peserta, berikutnya bertambah dan bertambah. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA