Tuesday, 13 Rabiul Awwal 1443 / 19 October 2021

Tuesday, 13 Rabiul Awwal 1443 / 19 October 2021

Kiai Fauzan, Ditakuti Jepang Berkat Doa Bambu Runcingnya 

Senin 22 Mar 2021 22:55 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Kia Ahmad Fauzan sosok pejuang kemerdekaan dari Jepara. Tentara Jepang (Ilustrasi).

Kia Ahmad Fauzan sosok pejuang kemerdekaan dari Jepara. Tentara Jepang (Ilustrasi).

Foto: IST
Kia Ahmad Fauzan sosok pejuang kemerdekaan dari Jepara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Salah satu ulama pejuang yang turut memberikan kontribusi untuk kemerdekaan negeri ini adalah KH Ahmad Fauzan dari Jepara. Jasa-jasanya tidak hanya dilakukan secara fisik, tapi juga melalui melalui pemikiran di bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Sebagai apresiasi, namanya pun diabadikan sebagai nama salah satu jalan di Jepara.

Di dalam jurnal Indonesian Historical Studies (IHiS) dijelaskan, Kiai Ahmad Fauzan (1905-1972) merupakan satu di antara ulama yang memiliki jasa besar dalam pemberdayaan masyarakat. Ia merupakan salah seorang ulama kharismatik di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Baca Juga

Ulama pantura ini dilahirkan di dukuh Penggung, Gemiring Lor, Kecamatan Nalumsari, Jepara pada 1905. Ia adalah putra keempat dari lima bersaudara yang terlahir dari pasangan Haji Abdurrasul dengan Nyai Thohiroh. 

Nama Kiai Ahmad Fauzan semakin banyak diperbincangkan ketika tentara Jepang tiba di Jepara pada 1942. Sebagai ulama, ia pun mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah Jepang. Ia bahkan sempat ditangkap polisi militer Jepang (kenpeitai) dan dimasukkan ke dalam penjara karena dituduh sebagai provokator. Namun, tuduhan tersebut tidak terbukti, sehingga Kiai Fauzan dibebaskan.

Kiai Fauzan adalah ulama yang gigih dalam menentang dan mengusir penjajah serta mempertahankan kemerdekaan. Pada tahun 1945, suatu peristiwa yang menggemparkan kemudian terjadi di wilayah Pati. Para kiai pun berkumpul dan bermusyawarah agar tentara Jepang segera menyerah.

Di dalam musyawarah tersebut, secara aklamasi para ulama menyepakati Kiai Fauzan untuk memimpin penyerangan melawan tentara Jepang. Dengan kerja sama semua elemen masyarakat, serta dukungan penuh dari para ulama yang menggerakkan para santri, akhirnya pasukan Jepang pun menyerah.

Kiai Fauzan juga dikenal sangat aktif bergerilya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Berbagai perlawanan dilakukan untuk menghadang Belanda sampai di Jepara. Diantaranya, Kiai Fasuzan memberikan doa-doa untuk bambu runcing di halaman masjid Darussalam Saripan Jepara, sehingga para pejuang pun tambah berani untuk melawan penjajah.

Sebagai ulama pejuang, ia pun selalu menjadi incaran tentara kolonial Belanda. Bahkan, pihak Belanda sampai mengadakan sayembara untuk menangkap Kiai Fauzan. Siapa saja yang memberitahukan keberadaanya maka Belanda akan memberikan hadiah.

Akhirnya, menjelang kekalahan Belanda ia pun tertangkap oleh musuh di Bangsri dan kemudian dimasukkan ke dalam sel tahanan Belanda di Jepara. Namun, setelah terjadi penyerahan kedaulatan dari tangan Belanda kepada Republik Indonesia pada 1949, Kiai Fauzan dibebaskan dari tahanan.

Setelah Indonesia meraih kemerdekaannya, Kiai Fauzan kemudian aktif berjuang melalui gerakan-gerakan sosial-keagamaan. Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan KH Hasyim Asy’ari menjadi organisasi yang dipimpinnya sejak 1945, khususnya di Jepara. Sebelumnya, Kiai Fauzan juga aktif di Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) sebagai wakil dari organisasi NU.

Sekitar 1949, Kiai Fauzan juga dipercaya oleh pemerintah untuk menjadi Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jepara. Jabatan ini diemban sampai akhir 1960-an akhir. Penunjukan tersebut tidak lepas dari keaktifannya dalam kegiatan sosial-keagamaan di tengah masyarakat, yaitu dakwah dengan cara berkelana dari satu desa ke desa yang lain.

Banyak hal yang dilakukan Kiai Fauzan selama menjadi Kepala Kemenag Kabupaten Jepara, diantaranya ia memiliki program kegiatan pengajian rutin setiap bulan di setiap masjid besar yang ada di kecamatan.  

Selain itu, Kiai Fauzan memiliki program yang unik, bahwa setiap kepala KUA disetiap kecamatan harus bisa membaca kitab kuning. Menurutnya, kepala KUA tidak hanya harus memahami masalah sosial tapi juga harus menguasai landasan atau ilmu ilmu pokok keagamaan yang ditunjukkan dengan kemampuan membaca kitab kuning yaitu kitab Fathul Muin. 

 

sumber : Harian Republika
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA