Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Korban Luka Bentrok Sengketa Lahan Pancoran Jadi 28 Orang

Kamis 18 Mar 2021 19:10 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Indira Rezkisari

Puing-puing berserakan usai dilakukan pembongkaran terhadap sejumlah rumah di Jalan Pancoran Buntu II, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (18/3). Sengketa lahan ini diketahui sempat berujung bentrok pada Rabu malam.

Puing-puing berserakan usai dilakukan pembongkaran terhadap sejumlah rumah di Jalan Pancoran Buntu II, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (18/3). Sengketa lahan ini diketahui sempat berujung bentrok pada Rabu malam.

Foto: Republika/Febryan A
Sebanyak delapan orang luka berat akibat bentrok sengketa lahan Pancoran.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Jumlah korban luka akibat bentrok antara warga dan terduga anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) di Jalan Pancoran Buntu II, Jakarta Selatan, Rabu (18/3), bertambah. Bentrok terkait sengketa lahan yang melibatkan PT Pertamina itu sebelumnya dilaporkan hanya mengakibatkan 22 korban luka.

"Kalau dari data kami ada 28 orang korban luka dan dibagi dalam dua kategori, luka ringan dan berat. Luka ringan 20, luka berat 8," kata Milan (24 tahun), perwakilan Solidaritas Forum Pancoran Bersatu, di lokasi, Kamis (18/3) sore.

Milan menjelaskan, 28 korban luka itu berasal dari pihak warga dan anggota solidaritas. Perinciannya, delapan warga dan 12 orang anggota solidaritas masuk dalam kategori luka ringan. Untuk kategori luka berat, tercatat ada tiga warga dan lima orang kolektif solidaritas.

Sebelumnya, warga Jalan Pancoran Buntu II bersama Solidaritas Forum Pancoran Bersatu bentrok dengan sejumlah orang yang diduga anggota ormas di Jalan Pasar Minggu Raya, Pancoran, Jakarta Selatan, pada Rabu (17/3) malam.

Bentrokan itu diketahui pecah pukul 22.00 WIB. Dalam sebuah video yang diterima Republika.co.id, tampak seorang pria melemparkan bom molotov saat bentrokan terjadi. Diketahui pula, lalu lintas di lokasi bentrokan sempat ditutup hingga situasi akhirnya kondusif pada Kamis (18/3) dini hari.  

Bentrokan tersebut diketahui berakar dari persoalan sengketa lahan di Jalan Pancoran Buntu II. PT Pertamina mengeklaim bahwa lahan di sana adalah miliknya secara sah. Di sisi lain, tanah itu juga diklaim milik sah ahli waris dari Mangkusasmito Sanjoto.

Ormas Bayaran
Bentrokan Rabu malam itu disinyalir melibatkan anggota ormas yang dibayar. Wakil Paguyuban Warga Pancoran Buntu (Gapartu) Lilik Sulistyo mengatakan, penyerangan warga itu berawal dengan datangnya puluhan orang tak dikenal ke lokasi pukul 21.00 WIB.

Meski puluhan orang itu tidak berseragam, Lilik menduga mereka adalah anggota sebuah ormas. "Jadi, disinyalir itu orang-orang bayaran. Entah itu ormas atau apalah. Sebab, mereka tidak berseragam. Tapi, menurut info yang kami terima, ya dari ormas," ungkap Lilik di lokasi, Kamis.

Melihat adanya puluhan orang di depan gerbang masuk, kata dia, warga pun melakukan penjagaan. Lama kelamaan ternyata massa ormas itu bertambah banyak.

Memasuki pukul 22.00 WIB, bentrokan pecah. Lilik mengatakan, bentrokan terjadi di depan pintu masuk Jalan Pancoran Buntu II. Dari luar, massa dengan jumlah banyak itu mulai melempari warga dengan batu hingga bom molotov.

"Pecahnya itu di perbatasan pintu masuk. Jadi, tidak sampai dalem. Mereka dari luar. Lemparan batu dan molotov, jadi pertama kali molotov dilempar ke arah kami. Kami tidak siap," kata Lilik. Akibatnya, banyak korban luka dari pihak warga.

Dalam sengketa lahan ini, PT Pertamina diwakili oleh anak perusahaannya PT Pertamina Training and Consulting (PTC). Manager Legal PT PTC, Achmad Suyudi, memastikan pihaknya melakukan pemulihan aset Pertamina di Pancoran dilakukan sesuai prosedur.

"Sampai saat ini, sudah lebih dari 75 persen lahan telah dikembalikan kepada Pertamina, dan semua kami lakukan sesuai prosedur dan tidak ada cara-cara anarkistis menggunakan ormas tertentu pada proses pemulihan aset," ungkap Achmad dalam keterangannya, Kamis.


Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA