Monday, 5 Zulhijjah 1443 / 04 July 2022

Sinovac, Made In China yang Mulai Unjuk Gigi

Kamis 18 Mar 2021 06:45 WIB

Red: Joko Sadewo

Seorang warga lanjut usia (lansia) menerima vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Ungaran, kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (17/3). Lansia menjadi kelompok warga yang diprioritaskan untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19 pada tahap kedua program vaksinasi sasara petugas pelayan public.

Seorang warga lanjut usia (lansia) menerima vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Ungaran, kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (17/3). Lansia menjadi kelompok warga yang diprioritaskan untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19 pada tahap kedua program vaksinasi sasara petugas pelayan public.

Foto: Republika/bowo pribadi
Sudah hampir 4 juta orang Indonesia yang divaksinasi tahap pertama.

Oleh : Friska Yolanda*

REPUBLIKA.CO.ID, Mendengar frase 'made in China', banyak orang yang langsung berpikiran pada produk berkualitas rendah yang diproduksi massal. Sebetulnya ini tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak begitu benar.

Tidak semua produk buatan China adalah produk dengan kualitas yang buruk. Tapi, stereotipe ini sudah berkembang begitu luas sehingga menutup produk-produk lain asal China yang memang kualitasnya baik. Termasuk vaksin.
 
Negara-negara di dunia mulai melakukan vaksinasi Covid-19 kepada warganya untuk menciptakan herd immunity atau kekebalan kelompok. Vaksinasi dilakukan agar pandemi Covid-19 segera berakhir dan aktivitas masyarakat kembali normal.
 
Sejak pandemi melanda, sejumlah negara langsung mengembangkan penelitian terkait vaksin. Pfizer, Moderna, Biontech, AstraZeneca, Sinovac, dan sejumlah perusahaan farmasi lain berlomba-lomba mengembangkan vaksin Covid-19 dengan berbagai metode.
 
Pfizer-Biontech merupakan vaksin pertama yang mendapatkan izin penggunaan darurat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Vaksin ini dinilai memiliki efikasi tinggi dan rendah risiko. Negara-negara di dunia pun berusaha memesan vaksin ini demi mengakhiri pandemi.
 
Namun, kebutuhan vaksin untuk 7 miliar penduduk dunia tak bisa diproduksi dalam waktu singkat, apalagi oleh satu produsen. Ditambah, khusus vaksin Pfizer-Biontech harus disimpan di suhu yang cukup rendah. Tidak semua negara memiliki fasilitas ini.
 
 
Indonesia memilih vaksin Sinovac. Perusahaan farmasi milik pemerintah PT Bio Farma telah melakukan pembicaraan terkait vaksin dengan Sinovac dan langsung mengambil posisi mengamankan pasokan. Sinovac yang merespons Indonesia pertama kali saat pemerintah berupaya mencari produk vaksin yang bisa digunakan di Indonesia.
 
Dirut Bio Farma Honesti Basyir bercerita bagaimana Indonesia di-bully karena memilih Sinovac. "Kalau kami tidak mengambil posisi, tidak akan dapat (vaksin)," katanya.
 
Memang, di tengah produksi vaksin yang terbatas, seluruh negara di dunia berusaha mengamankan pasokan vaksin untuk rakyatnya. Bagi negara maju, dana bukan halangan. Berbeda dengan negara berkembang, apalagi negara miskin. Belum lagi keterbatasan fasilitas penyimpanan vaksin.
 
Vaksin asal China ini sempat diragukan karena efikasinya yang ngepas banget dengan standar WHO. Hanya 65 persen. Keraguan itu datang dari masyarakat yang entah itu karena lebih percaya pada produk barat, atau penganut antivaksin, atau pembenci China, atau memang nggak suka saja dengan semua upaya pemerintah. 
 
Banyak yang enggan divaksin lebih dulu. Ingin melihat hasil dan dampaknya kepada sukarelawan yang lebih dulu disuntik.
 
Untuk meyakinkan masyarakat, Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang divaksinasi di Indonesia menggunakan produk Sinovac. Ini juga diragukan orang. Ada yang bilang bukan Sinovac, ada pula yang menuduh yang disuntikkan bukanlah vaksin tapi vitamin.
 
 
Sejauh ini, sudah hampir 4 juta orang Indonesia yang divaksinasi tahap pertama. Hasilnya cukup membuat hati lega. Tidak banyak efek samping berat yang dilaporkan penerima vaksin. Kini, pemerintah tengah mengebut vaksinasi tahap dua yang juga melibatkan lansia.
 
Pemerintah bukannya tidak memesan vaksin buatan perusahaan lain. Namun, keterbatasan produksi produsen vaksin membuat negara harus antre mendapatkan vaksin merek lain. 
 
Indonesia juga mendapatkan vaksin dari program COVAX. Sebanyak 1,1 juta dosis vaksin AstraZeneca telah tiba di Jakarta pada 8 Maret 2021. Indonesia jadi salah satu negara yang pertama di Asia menerima vaksin melalui inisiatif global.
 
Namun, sejumlah negara malah kini meragukan vaksin AstraZeneca karena terkait masalah pembekuan darah. Menanggapi hal ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan vaksin AstraZeneca aman.
 
"Kalau saya tanya sama ahlinya, mereka bilang semua vaksin pasti ada plus minusnya, tapi saran semua epidemiolog begitu dia (vaksin) lolos WHO, BPOM, mana yang paling cepat dapat itu yang diambil. Karena kalau sudah lulus WHO udah pasti safety-nya," ujar Budi Gunadi.
 
 
Apapun mereknya, vaksinasi adalah salah satu ikhtiar untuk mengakhiri pandemi. Jutaan korban sudah berjatuhan, perekonomian pun mandek karena pembatasan aktivitas. Vaksinasi diharapkan jadi salah satu jalan keluar agar aktivitas kembali normal.
 
Vaksinasi bukan berarti kebal virus, tetapi mengurangi efek samping dari penularan virus. Dan, jangan takut divaksinasi. Vaksinasi tak hanya melindungi diri sendiri tetapi juga orang-orang di sekitar kita yang tidak bisa mendapatkan vaksin.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA