Rabu 17 Mar 2021 13:57 WIB

Ekspor Ikan Kerapu dari Belitung ke Hong Kong Capai 24 Ton

Permintaan ekspor ikan kerapu hidup dari Hong Kong meningkat setelah pandemi.

Ikan Kerapu
Foto: Antara Foto/Iggoy el Fitra
Ikan Kerapu

REPUBLIKA.CO.ID, BELITUNG -- Dinas Perikanan Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mencatat ekspor ikan kerapu hidup dari daerah itu menuju Hong Kong hingga Maret 2021 mencapai 24 ton. "Sampai saat ini jumlah ekspor ikan kerapu hidup menuju Hong Kong mencapai 24 ton atau sebanyak empat kali pengiriman," kata Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Belitung, Firdaus Zamri di Tanjung Pandan, Rabu (17/3).

Menurut dia, permintaan ekspor ikan kerapu hidup dari negara Hong Kong kembali meningkat setelah pandemi virus corona baru atau Covid-19. Sebelumnya, lanjut Firdaus, ekspor kerapu hidup dari Belitung menuju Hong Kong sempat mengalami penurunan akibat karantina wilayah yang diterapkan Hong Kong dengan menutup sejumlah pasar dan restorannya.

Baca Juga

"Saat ini kapal-kapal mereka sudah masuk kembali dan bisa singgah ke beberapa pelabuhan untuk mengangkut ikan kerapu kalau normal sebenarnya sudah normal cuma kemarin karena ada pandemi saja," ujarnya.

Dia berharap, dengan pulihnya kondisi tersebut dapat mendorong pendapatan para pembudidaya ikan kerapu di daerah itu. "Karena pasar utama kerapu Belitung salah satunya adalah Hong Kong maka ketika mereka kembali membuka diri kami siap dengan pengiriman karena untuk stok kerapu di pembudidaya saat ini masih banyak jumlahnya tidak ada kendala," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Belitung, Rekie Irawan mengatakan pengiriman kerapu hidup menuju Hong Kong kembali meningkat dibandingkan tahun lalu. "Sekarang bisa dalam satu bulan sebanyak dua kali pengiriman dan mudahan-mudahan meningkat terus," ujarnya.

Ia menyebutkan, sedangkan untuk harga sekarang cukup stabil berkisar antara Rp 80 ribu sampai Rp 110 ribu per kilogram. "Untuk stok juga masih banyak di pembudidaya jumlah antara 50 ton sampai 100 ton masih ada karena banyak yang tidak terkirim akibat pandemi kemarin," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement