Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Keindahan Alquran di Balik 2 Lafaz di Kisah Sama Nabi Musa

Selasa 16 Mar 2021 22:00 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Alquran mempunyai keindahan sastrawi yang tak tertandingi. Alquran raksasa di Masjid Baiturrahman, Banyuwangi, Jawa Timur. (ilustrasi)

Alquran mempunyai keindahan sastrawi yang tak tertandingi. Alquran raksasa di Masjid Baiturrahman, Banyuwangi, Jawa Timur. (ilustrasi)

Foto: Antara/Budi Candra Setya
Alquran mempunyai keindahan sastrawi yang tak tertandingi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh KH M Afifuddin Dimyathi* 

Penggunaan dua kata yang berbeda dalam dua ayat yang menceritakan kejadian yang sama dalam Alquran berikut ini bisa saja mengundang pertanyaan? Apa maksudnya? 

Baca Juga

Dua kata yang dimaksud adalah  ketika Nabi Musa dengan izin Allah SWT memukulkan tongkatnya kepada batu lalu memancar darinya 12 mata air. Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 60, Allah menggunakan kata ْٱنفَجَرَت dan dalam surat Al-A'raf 160, Allah menggunakan kata ْانبَجَسَت. 

Hal ini dalam ilmu balaghah masuk kategori ٱئتلاف اللفظ مع المعنى "kesesuaian lafaz dengan makna". Kesesuaian lafaz dan makna dalam penggunaan kata tersebut tampak ketika yang meminta minum adalah Nabi Musa, Allah menjawabnya dengan kata انفجرت yang bermakna شدة تدفق الماء atau "menyembur dengan kencang", sebagaimana ayat berikut: 

وَاِذِ اسْتَسْقٰى مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْحَجَرَۗ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۗ قَدْ عَلِمَ كُلُّ اُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ ۗ 

Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah daripadanya dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya...”(QS Al-Baqarah: 60)

Dan ketika yang meminta minum adalah kaum Nabi Musa, Allah menjawabnya dengan kata انبجست yang bermakna سيلان الماء بشكل هادئ atau "mengalir dengan tenang" sebagaimana ayat berikut:

... وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اِذِ اسْتَسْقٰىهُ قَوْمُهٗٓ اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْحَجَرَۚ فَانْۢبَجَسَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًاۗ قَدْ عَلِمَ كُلُّ اُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْۗ...

... dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka mengalirlah dari (batu) itu dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing...”(QS Al-A'raf: 160) 

Kesesuaian yang dimaksudkan adalah ketika yang meminta adalah Nabi Allah Musa, maka Allah menjawabnya dengan pancaran air yang kencang, dan ketika yang meminta adalah kaumnya, maka Allah menjawabnya dengan aliran yang tenang. Bagaimanapun juga pasti ada perbedaan  antara kekasih dan yang bukan kekasih Allah SWT. Wallahu A'lam. 

 

*Pengasuh Pesantren Darul Ulum Peterorangan, Jombang 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA