Tuesday, 18 Muharram 1444 / 16 August 2022

Pupuk Kujang Dampingi Petani Cabai Garut Agar Produktif

Ahad 14 Mar 2021 17:07 WIB

Red: Gita Amanda

PT Pupuk Kujang memberikan pendampingan dan pemanfaatan pupuk NPK bagi petani cabai di Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat. (ilustrasi).

PT Pupuk Kujang memberikan pendampingan dan pemanfaatan pupuk NPK bagi petani cabai di Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat. (ilustrasi).

Foto: ANTARA/Saiful Bahri
Dengan pupuk ini diharapkan petani bisa lebih efisien dalam bertani

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT -- PT Pupuk Kujang memberikan pendampingan dan pemanfaatan pupuk NPK bagi petani cabai di Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat (Jabar) agar tetap produktif mendapatkan hasil panen cabai yang menguntungkan meski sedang musim hujan.

"Dengan pupuk ini diharapkan petani bisa lebih efisien dalam bertani, sehingga modal tanam bisa lebih terukur," kata Drikarsa salah satu tim riset Pupuk Kujang Cikampek yang melakukan pendampingan kebun cabai di Kampung Curug Pasantren, Desa Karyasari, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Sabtu (13/3) lalu.

Baca Juga

Ia menuturkan, PT Pupuk Kujang menjalankan program holding yaitu Program Agro Solution yang memberikan solusi dengan berkomitmen mendampingi petani mulai awal budidaya hingga membantu meningkatkan produktivitas, berikut menyediakan produk pupuk yang sesuai dengan kebutuhan. Upaya menjalankan program itu, Pupuk Kujang membuat NPK formula khusus berisi unsur hara yang disesuaikan dengan kebutuhan jenis tanaman, misalnya tanaman komoditas cabai.

"Diharapkan dengan pupuk ini petani bisa lebih beraturan dan tidak mencampur-campur formula dengan takaran yang asal," kata Drikarsa.

Ia menjelaskan, petani perlu menghindari pemberian unsur hara yang berlebihan pada tanaman cabai agar tidak rusak, untuk itu agar unsur haranya sesuai maka membutuhkan pupuk NPK. "Terbukti di sini, efektif dalam artian pertumbuhan hasil panen dan efisien dalam hal biaya, karena yang digunakan itu hanya satu formula, dari awal sampai akhir kalau kita bandingkan dengan taraf dosis memang lebih rendah dari kebiasaan petani," katanya.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA