Sunday, 16 Muharram 1444 / 14 August 2022

Ganjaran Orang yang Menahan Marah adalah Surga

Ahad 14 Mar 2021 05:25 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Ani Nursalikah

Ganjaran Orang yang Menahan Marah adalah Surga

Ganjaran Orang yang Menahan Marah adalah Surga

Foto: tangkapan layar youtube.com
Sama seperti manusia lain, Rasulullah pernah marah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai manusia, meluapkan amarah sangat wajar. Namun, bagaimana pandangan Islam dalam hal itu?

Pendiri Pusat Studi Alquran (PSQ) Prof. M. Quraish Shihab menjelaskan marah adalah sikap tidak senang melihat sikap orang lain yang Anda tidak setuju. Marah terdiri dari dua macam. Marah pada tempatnya dan marah tidak pada tempatnya.

Baca Juga

“Orang yang menjajah, ada pada tempatnya kita marah. Jadi ada marah pada tempatnya. Sedangkan marah yang tidak pada tempatnya dipicu oleh setan,” kata Quraish Shihab dalam video bertajuk Bagaimana Nabi Meluapkan Amarah di kanal Youtube Najwa Shihab.

Marah yang dipicu oleh setan terlihat pada wajahnya, yaitu merah padam. Mereka tidak bisa menguasai diri sehingga meluapkan amarahnya.

Dalam agama, tidak ada larangan dalam hal itu. Namun, yang pertama diminta adalah menahan marah terlebih dahulu.

Menahan bukan berarti tidak marah. Menahan yang dimaksud adalah untuk berpikir.

“Apa yang pertama dipikir? Ini sudah wajar marah atau tidak? Wajar marah kepada orang ini atau ada penyebab lain?” ujar dia.

Setelah berpikir, perlu diukur batas marahnya. Misal, apakah perlu orang tersebut sampai dimaki-maki. Perlu juga untuk mengukur batas amarah pada diri sendiri.

Quraish Shihab mengatakan Rasulullah pernah berkata laa taghdhab walakal jannah yang artinya jangan marah, kamu dapat surga. Ganjaran bagi orang yang dapat menahan marah yang bukan pada tempatnya adalah surga. Itu pun jangan sampai terlihat di wajah.

Jika memang harus terlihat di wajah, jangan sampai lidah bergerak. Jika lidah harus berucap, jangan sampai melampaui batas.

Kalau melampaui batas, jangan sampai tangan bergerak. Jadi, meluapkan marah ada tingkatannya. Itu sebabnya, kata Quraish Shihab, pengendalian amarah berkaitan erat dengan pengendalian nafsu.

“Nabi berpesan kalau ada seorang yang menimbulkan kejengkelan kamu di bulan puasa, maka sampaikan padanya aku sedang puasa. Aku sedang mengendalikan amarah, jadi aku tidak akan marah,” ujar dia.

Dia menyebut pesan lain dari Nabi adalah “Jika ada orang yang memaki kamu, katakan padanya, kalau makian kamu benar, saya mohon semoga Allah mengampuniku. Kalau salah, saya mohon semoga Allah mengampunimu.”

“Ini adalah akhlak dan diajarkan oleh semua agama, tidak hanya Islam. Agama ini indah, indah sekali. Damai orang yang beragama,” ucap dia.

Sama seperti manusia lain, Rasulullah pernah marah. Dia marah jika ada tuntunan agama yang dilanggar dengan sengaja.

Jika Nabi marah, semua orang takut. Hanya saja berbeda dengan manusia biasa, marahnya Nabi bisa berupa doa atau jika memang sudah sangat marah, terlihat di wajahnya ada urat di antara kedua matanya.

“Nabi marah yang pada tempatnya, di wajahnya terlihat ada urat di antara kedua matanya. Itu karena dia menahan amarah,” kata Quraish. 

https://www.youtube.com/watch?v=ovfYbAUUYwE&t=114s

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA