Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Cerita di Balik Berita

Melancong ke Raja Ampat, Serasa Mau Mati Digulung Ombak

Sabtu 13 Mar 2021 18:20 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Suasana keindahan alam di sekitar Pianemo, Raja Ampat, Papua Barat, Jumat (22/11).

Suasana keindahan alam di sekitar Pianemo, Raja Ampat, Papua Barat, Jumat (22/11).

Foto: Republika/Prayogi
Ketika pulang dari Raja Ampat kapal yang aku tumpangi nyaris digulung ombak.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Subroto, Jurnalis Republika

Cerita tentang keindahan Raja Ampat, Papua Barat, membuat aku ingin ke sana. Tak hanya berkunjung, aku ingin menulis tentang salah satu primadona pariwisata Indonesia itu.  

Wisata ke Raja Ampat tidak murah. Apalagi kalau pergi sendiri. Biaya pesawatnya saja Jakarta, Sorong pulang-pergi paling murah Rp 5 juta-an. Tiket kapal Sorong-Waisai PP Rp 400 ribu, sewa spead boat atau kapal kecil untuk berkeliling Raja Ampat Rp 7-8 juta.

Belum lagi ditambah dengan biaya menginap, makan, transportasi lokal, beli souvenir, dan lain-lain. Jika ditotal, biaya wisata ke Raja Ampat lebih mahal dibandingkan jalan-jalan keluar negeri.

Tapi aku tak kehilangan akal untuk bisa menikmati wilayah yang dikenal sebagai segitiga terumbu karang dunia itu. Maka aku cari cara agar bisa liputan sambil jalan-jalan ke sana.

Bulan Mei 2009, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman berkunjung ke Papua Barat. Salah satu lokasi yang akan dikunjunginya Irman adalah Raja Ampat. Kebetulan sekali. Aku pun mengusulkan liputan Raja Ampat ke kantor. Belum pernah ada yang menulis tentang Raja Ampat di rubrik Jalan Jalan di edisi Ahad Republika.  

photo

Aku pun berangkat bersama rombongan Irman Gusman. Rombongan DPD cukup banyak. Selain Irman dan anggota DPD asal Papua, juga sejumlah wartawan dari Jakarta, dan staf DPD.  Kami menginap di Sorong dan menghadiri sejumlah acara.

Besoknya acara dilanjutkan di Raja Ampat. Perjalanan dari Sorong  Waisai, ibu kota Raja Ampat, ditempuh dengan kapal cepat (speed boat) selama kurang lebih dua jam. Acara di kantor Kabupaten Raja Ampat cuma sebentar. Pertemuan dengan bupati. Dia menjelaskan soal perkembangan pariwisata di Raja Ampat.  

Bupati Markus Wanma menjelaskan, Kabupaten Raja Ampat terdiri dari empat pulau besar yaitu Pulau Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool. Lainnya adalah pulau-pulau kecil. Pusat pemerintahan berada di Waisai, Distrik Waigeo Selatan.

Wilayahnya didominasi oleh perairan dengan perbandingan 1:6. Raja Ampat memiliki kekayaan laut yang luar biasa dan unik. Tak kurang dari 1.318 jenis ikan, 699 jenis moluska (hewan lunak) dan 537 jenis hewan karang ditemukan di perairan itu. Wilayah kabupaten yang baru dibentuk tahun 2002 itu juga kaya dengan keanekaragaman terumbu karang, hamparan padang lamun, dan hutan mangrove.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan jalan-jalan. Kami mengelilingi sejumlah pulau-pulau kecil. Dari speed boat yang kami naiki, aku bisa melihat ikan-ikan berkejaran.

Cerita yang aku dengar tentang Raja Ampat tak berlebihan. Belum pernah aku menyaksikan gugusan pulau karang yang begitu banyaknya.

Pulau-pulau kecil itu ibarat batu-batu besar ditancapkan di laut, dinding-dindingnya curam, sebagian dirimbuni pepohonan. Di seluruh Raja Ampat ada sekitar 610 pulau. Dari jumlah itu hanya sekitar 35 pulau saja yang berpenghuni.

Usai berkeliling gugusan pulau karang itu, kami beristrahat di cottage sebuah pulau kecil, sambil menikmati makan siang. Pantainya berpasir putih. Lautnya tenang. Sambil berbaring di pantai aku memandangi laut yang biru dan teduh. Sungguh Raja Ampat adalah sepotong surga yang jatuh ke bumi.

Aku pun mengumpulkan informasi untuk tulisan ficer jalan-jalan. Tapi tak terlalu banyak cerita yang kudapat. Aku belum bisa mewawancarai penduduk lokal. Juga belum mencoba diving atau snorkeling. Padahal sebagai wartawan aku harus berusaha agar tulisanku bisa menarik. Aku harus lebih banyak melihat lokasi wisata di Raja Ampat, mewawancarai penduduk, dan pelaku pariwisatanya.

Sorenya rombongan kembali ke Sorong. Malam itu ada acara DPD di Sorong. Aku pun ikut kembali ke Sorong. Besoknya sudah tidak ada acara DPD, jadi aku pamit berpisah dengan rombongan, dan kembali ke Raja Ampat sendiri. Melanjutkan liputanku yang belum selesai.

Aku sudah mempersiapkan kembali ke Raja Ampat sendiri dan menginap di sana. Aku sudah berjanji dengan kepala dinas kelautan Raja Ampat yang malam itu menginap di Sorong. Pagi-pagi dia akan kembali ke Raja Ampat, sekalian menjemput tamu dari Jakarta. Dan aku boleh ikut kapal bersama rombongan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA