Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Liverpudlian Harus Siap Resah dengan Kebijakan Transfer Klub

Jumat 12 Mar 2021 06:58 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Gilang Akbar Prambadi

Suporter Liverpool di Kota Kiev Ukraina

Suporter Liverpool di Kota Kiev Ukraina

Foto: EPA-EFE/Robert Ghement
Sejatinya Liverpool adalah sebuah aset dari suatu grup bisnis milik FSG.

REPUBLIKA.CO.ID, LIVERPOOL -- Fenway Sports Group (FSG), selaku pemilik Liverpool, diprediksi bakal tetap menerapkan kehati-hatian dalam menggelontorkan dana untuk penguatan skuad pada bursa transfer awal musim depan. Belanja minim The Reds di bursa transfer pertengahan musim ini menjadi sinyal dari rencana FSG dalam menatap jendela transfer musim panas mendatang. 

Selama ini, kebijakan transfer pemain Liverpool memang menjadi fokus utama FSG, sejak mengakuisisi The Reds pada 2010 silam. Pendekatan yang mereka lakukan adalah dengan mengandalkan data statistik dalam mendatangkan pemain-pemain berbakat dan bisa memberikan dampak langsung pada performa tim. 

Perekrutan Phillipe Coutinho, Mohamed Salah, ataupun Andrew Robertson, yang dilakukan Direktur Sepak Bola Liverpool, Michael Edwards, pun mendapatkan pujian. FSG, di bawah kendali pengusaha asal Amerika Serikat, John W Henry, baru benar-benar berani menggolontorkan dana besar saat merekrut pemain dengan potensi yang besar, seperti Virgil Van Dijk ataupun Allison. 

Namun, dengan kesuksesan Liverpool meraih titel Liga Champions pada musim 2018/2019 dan gelar Liga Primer Inggris musim lalu, FSG sudah meraup banyak keuntungan finansial. Pun saat melepas Phillipe Coutinho ke Barcelona dengan nilai transfer dikabarkan mencapai 105 juta poundsterling pada 2018. 

Kendati begitu, FSG tetap dinilai cenderung pelit dalam mengeluarkan dana transfer. Dalam lima musim terakhir, pengeluaran bersih Liverpool dalam merekrut pemain mencapai total 113 juta poundsterling. 

Liverpool berada di peringkat ketujuh terbawah dalam daftar klub Liga Primer Inggris paling royal dalam belanja pemain. 

Sepanjang periode itu, Liverpool lebih banyak menghabiskan dana transfer dibandingkan Southampton, Cyrstal Palace, West Bromwich Albion, Newcastle United, Burnley, dan Leeds United. Langkah kehatian-hatian FSG itu pun terlihat di aktivitas bursa transfer pada pertengahan Januari silam. 

Terlebih, pada saat itu, Liverpool membutuhkan pemain baru usai badai cedera pemain. Alih-alih mendatangkan bek top, The Reds malah merekrut Ben Davies dengan nilai transfer tidak lebih dari 3 juta euro dan meminjam Ozan Kabak. 

Menurut pakar finansial sepak bola, Kieran Maguire, FSG merupakan organisasi yang beorientasi laba, dan Liverpool merupakan salah satu bagian dari FSG. Karena itu, tidak mengherankan apabila FSG menerapkan prinsip kehatian-hatian dalam menggelontorkan dana transfer pemain. FSG, tutur Maguire, sebenarnya sudah mendapatkan keuntungan yang cukup besar dari Liverpool. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA