Saturday, 13 Rajab 1444 / 04 February 2023

Kuburan Massal Kembali Ditemukan di Tarhuna Libya

Rabu 10 Mar 2021 19:52 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Tentara Libya merayakan kemenangan setelah merebut kota Tarhuna dari milisi pemberontak Khalifa Haftar di barat Libya pada 5 Juni 2020. ( Hazem Turkia - Anadolu Agency )

Tentara Libya merayakan kemenangan setelah merebut kota Tarhuna dari milisi pemberontak Khalifa Haftar di barat Libya pada 5 Juni 2020. ( Hazem Turkia - Anadolu Agency )

Foto: Anadolu Agency
Kuburan massal ditemukan di kawasan proyek Alrabet di Tarhuna.

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI -- Pemerintah Libya kembali menemukan kuburan massal di kota selatan Tarhuna. Belum diidentifikasi berapa banyak jenazah yang terkubur di sana.

"Kuburan (massal) itu ditemukan di kawasan proyek Alrabet di Tarhuna," kata juru bicara Otoritas Umum untuk Penelitian dan Identifikasi Orang Ilang Libya Abdulaziz al-Jaafari saat diwawancara Anadolu Agency pada Rabu (10/3).

Dia mengungkapkan belum jelas berapa banyak jenazah di kuburan massal tersebut. Tahun lalu, sebanyak delapan kuburan massal ditemukan di Tarhuna.

Kota itu sempat dikuasai pasukan Libyan National Army (LNA) yang dipimpin Jenderal Khalifa Haftar. Menurut Misi Dukungan PBB di Libya (UNSMIL), kuburan massal itu mengerikan. Lebih dari 150 jasad, termasuk wanita dan anak-anak, ditemukan di salah satu kuburan.

Tak lama setelah penemuan kuburan itu, Dewan HAM PBB mengadopsi resolusi yang meminta Komisaris Tinggi HAM PBB mengirim tim pencari fakta ke Libya. Dewan HAM PBB meminta misi menetapkan fakta dan keadaan terkait situasi HAM di Libya.

"(Misi harus) mengumpulkan fakta dan meninjau informasi yang relevan untuk mendokumentasikan dugaan pelanggaran hukum HAM internasional dan hukum humaniter internasional," kata resolusi yang diadopsi Dewan HAM PBB.

Libya telah dilanda krisis sejak 2011, yakni ketika pemberontakan yang didukung NATO melengserkan mantan presiden Muammar Qadafi. Dia telah memimpin negara tersebut lebih dari empat dekade. Qadafi tewas setelah digulingkan.

Sejak saat itu, kekuasaan politik Libya terpecah dua. Basis pertama memusatkan diri di Libya timur dengan pemimpinnya Khalifa Haftar. Sementara basis yang didukung PBB berada di Tripoli.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA