Friday, 15 Zulqaidah 1442 / 25 June 2021

Friday, 15 Zulqaidah 1442 / 25 June 2021

Kaitan Agama dan Etos Kerja Menurut Pengusaha Perempuan 

Rabu 10 Mar 2021 10:34 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Agama mempunyai pengaruh menunjang peningkatan etos kerja. Ilustrasi pekerja

Agama mempunyai pengaruh menunjang peningkatan etos kerja. Ilustrasi pekerja

Foto: Republika/Abdan Syakura
Agama mempunyai pengaruh menunjang peningkatan etos kerja

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Agama memiliki hubungan yang sangat erat dengan peningkatan etos kerja. Peningkatan etos kerja merupakan sebuah kewajiban bagi setiap insan untuk meraih peningkatan ekonomi dan kesejahteraan. 

Kendati demikian menurut pengusaha perempuan milenial, Maria Monica Leoningrum, bekerja tidak sekadar dapat dimaknai untuk memenuhi harta tapi juga mendapatkan keberkahan dari Tuhan.

Baca Juga

Menurut dia, menjaga kekompakan antar karyawan juga menjadi bagian dari peningkatan etos kerja untuk mencapai keberkahan tersebut. 

"Kita harus melihat agama itu sebagai suatu jalan untuk menyatukan. Jadi kenapa hubungannya erat agama dengan peningkatan etos kerja, agama itu menjadi suatu norma untuk manusia menjalankan kehidupannya sesuai ajaran Tuhan masing-masing,” ujar Leoni dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Selasa (9/3).

“Begitu juga di dalam perusahaan. Kita tahu kalau norma atau ketentuan itu ada. Jadi bagaimana cara menghubungkan agama bisa meningkatkan etos kerja dari karyawan kita untuk mencapai keberkahan," lanjutnya di sela-sela silaturahim dan ceramah rohani Imam Besar di Islamic Center of New York, Muhammad Shamsi Ali yang bertajuk "Agama Dan Peningkatan Etos Kerja," di Jakarta Selatan.

Direktur Artharia Karya Oranye (AKO) ini mengatakan, pihaknya juga meminta semua karyawannya meningkatkan etos kerja, karena meningkatkan etos kerja merupakan ajaran agama. 

Karyawan perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas ini memiliki latarbelakang yang berbeda-beda. Namun, semua karyawan diberlakukan sama.

"Yang paling penting tidak pernah saya melihat karyawan berdasarkan agamanya, suku dan etnis, dan gendernya. Semuanya sama," ucap lulusan Prasetiya Mulya Business School ini.

Menurut Leoni, untuk mengembangkan sebuah perusahaan, semua karyawan harus menjadikan agama sebagai spirit menjaga persatuan dan kekompakan dalam bekerja. Hal ini, kata Leoni, sangat penting untuk mendapatkan keberkahan itu sendiri.

"Sangat bagus sekali kalau agama untuk menyatukan. Itu yang kita harapkan untuk karyawan-karyawan di sini. Jadi jangan ada kolompok-kolompok yang membuat kelompok terpisah terutama berhubungan dengan agama," kata perempuan 30 tahun ini.

Lenony sendiri juga kerap meminta karyawannya menggelar doa bersama sebelum memulai bekerja. Doa yang dipanjatkan ini dengan harapan agar seluruh pimpinan dan karyawannya di perusahaan ini diberikan keselamatan dan keberkahan. "Kita memang suka berkumpul misalnya setiap hari Senin untuk melakukan doa bersama karyawan perusahaan ini,” jelasnya.

Sementara itu, Imam Shamsi Ali, menjelaskan bahwa etos kerja akan terbangun dari keragaman dan kesepahaman dalam dunia global yang penuh kompetisi ini. Menurut dia, yang diperlukan saat ini adalah ketauladanan dalam titik-titik kebaikan dalam setiap kemunitas. 

Dia mengimbau setiap komunitas terus belajar membangun kesepahamam dan tak perlu kaget ketika berhadapan dengan perbedaan, termasuk perbedaan keyakinan dan beribadah. 

Dia juga mendorong setiap kemunitas membangun dan mempertamukan cinta kasih yang diajarkan dalam agama Kristen dan rahmat dalam agama Islam.  

"Bayangkan kalau cinta kasih dan kasih sayang dipertemukan. Maka kalau ini terjadi maka kerjasama dengan baik. Bukan cuma itu, maka Beyond dari pada patnership akan terjadi apresiasi. Aparesiasi ini artinya menyadari bahwa setiap komunitas itu ada kekurangan dan kelebihan,” kata Imam Shamsi Ali.

n/Muhyiddin

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA