Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Friday, 25 Ramadhan 1442 / 07 May 2021

Pandemi Covid Berdampak Lebih Parah pada Pekerja Perempuan

Selasa 09 Mar 2021 10:28 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolandha

Janet Yellen

Janet Yellen

Foto: AP PHOTO
Pandemi akan mengurangi prospek perempuan di tempat kerja dan perekonomian.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Menteri Keuangan Amerika Serikat Janet Yellen mengatakan pandemi Covid-19 telah berdampak sangat tidak adil pada pendapatan dan peluang ekonomi perempuan. Ia menyerukan langkah-langkah jangka panjang untuk meningkatkan kondisi tenaga kerja perempuan.

Dalam dialog dengan Kepala Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva, Yellen mengatakan sangat penting untuk mengatasi risiko pandemi yang akan meninggalkan bekas luka permanen. Menurutnya, pandemi akan mengurangi prospek perempuan di tempat kerja dan perekonomian.

Dia mencatat bahwa partisipasi perempuan dalam angkatan kerja sudah lebih rendah di Amerika Serikat (AS) bahkan sejak sebelum pandemi dibandingkan di Eropa. Saat pandemi, masalah ini bisa jadi lebih buruk.

Baca Juga

"Saya pikir ini benar-benar tragis, dampak krisis ini terhadap perempuan, terutama perempuan berketerampilan rendah dan minoritas," kata Yellen, dilansir Reuters, Senin (8/3).

Ia mengatakan yang kaya semakin kaya dan mereka yang berada di bawah akan terus berjuang dan menjadi paling terpukul. Yellen menyebutnya sebuah ketidakadilan. Perempuan menjadi kelompok mengalami kehilangan pekerjaan yang jauh lebih besar.

Menurutnya, ini karena mereka tidak terwakili secara proporsional di sektor jasa. Banyak yang keluar dari angkatan kerja untuk merawat anak-anak. Juga banyak mereka yang tidak mendapat pendidikan lebih tinggi.

"Kami sangat prihatin atas bekas luka, bekas luka permanen dari krisis ini," katanya.

Ia berharap bahwa dana bantuan Presiden Joe Biden sebesar 1,9 triliun dolar AS akan membantu pasar tenaga kerja kembali ke jalurnya tahun ini atau tahun depan. Sehingga dapat menghindari kesenjangan ekonomi yang sudah sangat lebar di pasar tenaga kerja sejak krisis keuangan global 2008-2009.

Pada Januari, perempuan menyumbang lebih dari setengah dari 10 juta pekerjaan yang hilang selama krisis virus Covid-19. Padahal jumlah mereka kurang dari setengah angkatan kerja AS. Lebih dari 2,5 juta perempuan meninggalkan pekerjaannya antara Februari 2020 dan Januari tahun ini.

Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan dengan 1,8 juta laki-laki yang juga kehilangan pekerjaan. Dalam jangka panjang, Yellen mengatakan sangat penting untuk memperbaiki kondisi yang dihadapi perempuan di pasar tenaga kerja. Termasuk kurangnya tunjangan, cuti berbayar untuk keadaan darurat keluarga dan perawatan anak.

"Ini adalah hal-hal yang akan kami bahas seiring waktu," katanya.

Tujuannya adalah membangun perubahan struktural jangka panjang yang dapat memajukan integrasi perempuan secara penuh, tanpa peduli rasnya. Sehingga masalah diskriminasi dalam kesetaraan angkatan kerja dan gaji dapat ditangani secara sistemik cara jangka panjang.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA