Selasa 09 Mar 2021 08:01 WIB

Terangkat Imbal Hasil Obligasi, Nilai Tukar Dolar AS Menguat

Dolar telah menguat hampir 2,5 persen sejak awal tahun ini.

Dolar AS mencapai tertinggi 3,5 bulan terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin (8/3) di tengah ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS yang kuat dan kenaikan inflasi. Imbal hasil (yields) obligasi pemerintah AS lebih tinggi meningkatkan daya tarik mata uang safe-haven greenback.
Foto: ANTARA/Aprillio Akbar
Dolar AS mencapai tertinggi 3,5 bulan terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin (8/3) di tengah ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS yang kuat dan kenaikan inflasi. Imbal hasil (yields) obligasi pemerintah AS lebih tinggi meningkatkan daya tarik mata uang safe-haven greenback.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Dolar AS mencapai tertinggi 3,5 bulan terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin (8/3) di tengah ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS yang kuat dan kenaikan inflasi. Imbal hasil (yields) obligasi pemerintah AS lebih tinggi meningkatkan daya tarik mata uang safe-haven greenback.

Setelah jatuh 4 persen pada kuartal terakhir tahun lalu, dolar telah menguat hampir 2,5 persen sejauh tahun ini. Ini karena investor memperkirakan kenaikan luas dalam imbal hasil obligasi pemerintah AS akan membebani penilaian ekuitas dan mendorong permintaan terhadap mata uang AS.

Baca Juga

"Jika kami terus melihat imbal hasil naik, itu akan menjadi sangat positif bagi dolar dan jika tidak ada yang benar-benar menghalangi," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York.

Biasanya, imbal hasil yang meningkat adalah bullish untuk dolar, sementara imbal hasil yang jatuh adalah bearish untuk dolar. Angka pekerjaan AS yang kuat dan persetujuan Senat atas paket pemulihan sebesar 1,9 triliun dolar AS dari Presiden Joe Biden juga mendukung dolar AS.

"Pasar tenaga kerja AS pulih dengan cepat, paket bantuan besar Presiden Biden telah disetujui oleh Senat, dan Amerika telah meningkatkan permainan imunisasinya, mengelola jumlah vaksin yang mencapai rekor akhir pekan ini," kata Marios Hadjikyriacos, seorang analis investasi di XM, dikutip dari Reuters.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement