Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Sibolangit dan Moeldoko Ginting

Senin 08 Mar 2021 05:46 WIB

Red: Erik Purnama Putra

Eks Panglima TNI Jenderal Moeldoko kala mencium tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Eks Panglima TNI Jenderal Moeldoko kala mencium tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Foto: tweeter/wa grup
Jenderal Moeldoko pernah diberikan penghargaan marga Ginting.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Selamat Ginting/Wartawan Senior Republika

Sibolangit. Di situlah asal mula leluhur kami. Almarhum ayahanda lahir di Sibolangit. Sekitar satu jam perjalanan atau 50 kilometer (km) dari Kota Medan, Sumatra Utara.

Berada di kawasan Gunung Sibayak. Udaranya sejuk, pemandangan alamnya juga bagus. Termasuk air terjunnya dan tempat pemandian Sembahe.

Di daerah mayoritas etnis Karo ini terdapat saudara kembar Kebun Raya Bogor. Taman Hutan Raya yang digagas oleh orang Belanda yang juga menggarap Kebun Raya Bogor. Tentu saja sebelum Indonesia merdeka.

Ada pula taman bermain seperti Dunia Fantasi Green Hills. Daerah ini juga menjadi lokasi perkemahan nasional Pramuka. Jambore nasional 1977 yang legendaris itu diselenggarakan di Sibolangit. Sekelas dengan Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta.

Dalam mars Jambore di Sibolangit, menekankan budi luhur, kejujuran, dan kepribadian nasional harus dijunjung tinggi. Dari Medan menuju Tanah Karo, pastilah melalui Jalan Letjen Jamin Ginting. Pahlawan nasional asal Tanah Karo. Termasuk melewati Sibolangit nan sejuk.

Pada 2015 saat erupsi Gunung Sinabung di Tanah Karo, beberapa kali Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menyambangi wilayah terdampak erupsi. Termasuk mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun sebelumnya.

Sang Presiden yang menandatangani pangkat Brigjen, Mayjen, Letjen, dan Jenderal bagi Moeldoko. Ia kemudian diberikan penghargaan marga Ginting. Jadilah namanya Jenderal TNI Moeldoko Ginting.

Melalui upacara adat dengan izin pemangku adat setempat. Maka di Tanah Karo, termasuk Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, dan Medan, dia dipanggil "Pak Ginting". Satu dua hari ini, saya dihubungi beberapa rekan di Sibolangit.

Terkait pelaksanaan KLB (Kongres Luar Biasa) Partai Demokrat di Sibolangit. Tepatnya kawasan The Hill. Di situ ada hal yang mustahil. Moeldoko orang non-Partai Demokrat menjadi ketua umum partai biru berlambang Mercy.

"Apakah Moeldoko KSP (kepala staf presiden) itu sama dengan Jenderal Moeldoko Ginting?"

Saya jawab, betul orang yang sama. "Kenapa?" tanya saya.

"Bagaimana dengan kata dan perbuatan beliau?"

Saya pun menjawab ringkas. "Dia itu politikus. Jangan ditarik ke budaya. Kata dan perbuatan bisa berbeda dalam politik." "Waduh, Bang.... Ampun," katanya di ujung telepon.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA