Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

Tanam Ulang Dimulai, Petani Belum Terima Bantuan

Senin 08 Mar 2021 07:00 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Agus Yulianto

Sejumlah buruh tani menyiapkan benih padi untuk tanam ulang pascabanjir.

Sejumlah buruh tani menyiapkan benih padi untuk tanam ulang pascabanjir.

Foto: ANTARA/Arnas Padda
Biaya yang dikeluarkan untuk tanam ulang sekitar Rp 3,5 juta – Rp 4 juta per hektare.

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON -- Para petani di Kabupaten Cirebon dan Indramayu yang sawahnya mengalami puso (gagal panen) akibat banjir, kini telah melakukan tanam ulang. Namun, sampai sekarang, mereka belum menerima bantuan dari pemerintah. Tak sedikit di antara mereka yang terpaksa berutang untuk membiayai tanam ulang.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon, Tasrip Abu Bakar, menyebutkan, proses tanam ulang yang dilakukan petani di Kabupaten Cirebon sudah selesai pada akhir pekan pertama Maret 2021. Sebelumnya, mereka telah melakukan persemaian untuk tanam ulang tersebut.

"Ini barusan saja selesai tanam (ulang)," ujar Tasrip kepada Republika, Ahad (7/3).

Tasrip mengatakan, para petani yang sawahnya puso hingga kini belum memperoleh bantuan apapun dari pemerintah. Karenanya, petani terpaksa harus membiayai sendiri kebutuhan tanam ulangnya.

Tasrip menyebutkan, petani yang melakukan dua kali tanam ulang akibat dua kali dilanda banjir, terpaksa mengeluarkan biaya sekitar Rp 7 juta per hektare. Sedangkan petani yang melakukan sekali tanam ulang, biaya yang dikeluarkannya sekitar Rp 3,5 juta – Rp 4 juta per hektare.

Tasrip menambahkan, komponen biaya yang dirasakan sangat memberatkan petani di antaranya adalah pembelian pupuk non subsidi. Pasalnya, kuota pupuk subsidi telah habis terpakai saat tanam sebelum banjir.

Khusus untuk pupuk urea, harga non subsidi di tingkat petani sekitar Rp 6.000 per kilogram (kg). Sedangkan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah hanya Rp 2.250 per kg.

"Walau memberatkan, petani tetap membelinya karena butuh," ujar Tasrip.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA