Sunday, 29 Sya'ban 1442 / 11 April 2021

Sunday, 29 Sya'ban 1442 / 11 April 2021

Persadia: Perut Buncit Terkait Gangguan Metabolisme

Kamis 04 Mar 2021 22:00 WIB

Red: Ratna Puspita

Perut buncit (Ilustrasi)

Perut buncit (Ilustrasi)

Foto: Foxnews
Perut buncit adalah salah satu ciri kelebihan berat badan atau obesitas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok Prof. Dr. Mardi Santoso meminta agar masyarakat jangan meremehkan kondisi perut buncit karena terkait dengan gangguan metabolisme yang abnormal. "Jangan remehkan perut buncit," kata Prof Mardi di acara seminar daring bertajuk "Cerdas Baca Label Kemasan, Hindari Risiko Obesitas" di Jakarta, Kamis (4/3).

Ia menjelaskan, perut buncit berkaitan dengan gangguan metabolisme yang abnormal, baik dari lemak, peradangan pembuluh darah atau kadar insulin dalam darah, gangguan metabolisme karbohidrat. Kondisi ini bisa menimbulkan sejumlah penyakit diantaranya diabetes, darah tinggi, penyakit kardiovaskuler dan penyakit jantung.

Pada 2018, perut buncit pada masyarakat umur > 15 tahun mencapai 31 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Parameter perut buncit di Indonesia adalah pada bila lingkar perut pada laki-laki > 90 cm dan > 80 cm pada perempuan.

Baca Juga

"Juga parameter lainnya lemak, tekanan darah, gula darah," kata dokter spesialis penyakit dalam itu.

Perut buncit, kata dia, adalah salah satu ciri kelebihan berat badan atau obesitas. Sementara obesitas bisa berujung pada penyakit tidak menular antara lain prediabetes, diabetes mellitus, penyakit kardiovaskuler, sindrom metabolik, gangguan lemak darah, kekentalan darah naik, trombosit menumpuk, kerusakan pembuluh darah, gangguan kesuburan, hipertensi dan kanker.

"Risiko obesitas itu macam-macam diantaranya penyakit kardiovaskuler, ada stroke, penyempitan pembuluh darah, jantung koroner, kaki pincang, syaraf matanya kena retinopati. Lalu kanker. Jadi sel-sel lemak itu mudah berubah jadi keganasan. Jadi orang gemuk itu ternyata tidak menunjukkan kemakmuran, justru berisiko terkena penyakit tidak menular," papar dokter yang praktek di OMNI Hospital Pulomas.

Untuk menurunkan angka penyakit tidak menular akibat obesitas dan kelebihan berat badan, menurut dia, perlu peranan Kementerian Kesehatan, tokoh masyarakat dan perusahaan-perusahaan makanan. Mardi menyebut di negara-negara lain, pencegahan tidak hanya dilakukan pada penyakit akibat obesitas, tetapi mereka melakukan upaya pencegahan obesitas dan kelebihan berat badan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA