Kamis 04 Mar 2021 19:44 WIB

Muslim Swiss Menentang Referendum Terkait Larangan Cadar

Banyak aktivis menyebut ini sebagai tindakan rasis dan seksis.

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Ani Nursalikah
Muslim Swiss Menentang Referendum Terkait Larangan Cadar
Foto: AP/Dar Yasin
Muslim Swiss Menentang Referendum Terkait Larangan Cadar

REPUBLIKA.CO.ID, BERN -- Sebuah jajak pendapat menunjukkan, mayoritas orang Swiss akan mendukung larangan cadar yang sedang direncanakan. Sementara para aktivis berpendapat, langkah ini terkait Islamofobia dan upaya mengendalikan wanita di ruang publik.

Dilansir dari Turkish Radio and Television (TRT), Pemerintah Swiss akan mengadakan pemungutan suara pada 7 Maret dalam referendum publik tentang pelarangan niqab, burqa, dan penutup wajah penuh lainnya. Banyak kecaman dan kritik karena upaya referendum ini.

Baca Juga

Banyak aktivis menyebut ini sebagai tindakan rasis dan seksis karena memilih dan menargetkan wanita Muslim hingga melanggar hak asasi manusia. Niqab, penutup wajah, adalah bentuk praktik keagamaan yang dilakukan oleh beberapa wanita Muslim. 

Sebagian besar pemakai niqab di Swiss adalah turis yang datang ke negara Alpen itu untuk berlibur. Hal ini mendorong pemerintah Swiss pada Januari untuk mendesak pemilih menolak larangan tersebut.

"Sangat sedikit orang di Swiss yang memakai penutup wajah penuh. Perkiraan jumlah total pemakai niqab di Swiss berkisar antara 36 hingga 130 orang," kata pemerintah dalam sebuah pernyataan.

Pemerintah Swiss mengaku menentang referendum atas dasar ekonomi. Sementara para pegiat berpendapat bahwa ini lebih tentang Islamofobia dan mengendalikan perempuan di ruang publik.

“(Itu) seksis, karena di satu sisi, kami ingin mengontrol tubuh perempuan dan di sisi lain kami mengingkari kapasitas mereka untuk menentukan nasib sendiri. (Itu) rasis karena menstigmatisasi Muslim di Swiss,” kata Meriam Mastour, pengacara dan anggota Les Foulards Violets, sebuah komunitas feminis Muslim di Swiss yang telah berkampanye menentang larangan tersebut.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement