Sunday, 29 Sya'ban 1442 / 11 April 2021

Sunday, 29 Sya'ban 1442 / 11 April 2021

6 Alasan di Balik Keruntuhan Kesultanan Ottoman

Rabu 03 Mar 2021 16:29 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Ani Nursalikah

6 Alasan di Balik Keruntuhan Kesultanan Ottoman. Para orang kaya di zaman Ottoman (ilustrasi)

6 Alasan di Balik Keruntuhan Kesultanan Ottoman. Para orang kaya di zaman Ottoman (ilustrasi)

Foto: google.com
Ottoman runtuh pada pada 3 Maret 1924.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Kesultanan Utsmaniyah atau Ottoman yang berkuasa selama berabad-abad, pada 3 Maret 1924 mengalami keruntuhan. Kesultanan yang berdiri kurang lebih 625 tahun lalu itu dibubarkan lewat Majelis Nasional Agung dalam sidangnya sejak Februari 1924.

Majelis memutuskan menghapus jabatan khalifah dan mempersilakan khalifah terakhir, Abdul Majid II meninggalkan Turki. Ottoman mengendalikan banyak wilayah, tidak hanya mencakup Asia tapi sebagian besar Eropa Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika Utara.

Kesultanan menguasai wilayah dengan militer yang kuat, perdagangan yang menguntungkan, dan pencapaian yang mengesankan di berbagai bidang. Mulai dari arsitektur sampai astronomi.

Baca Juga

Namun, itu semua kandas setelah Ottoman berperang di pihak Jerman dalam Perang Dunia I dan menderita kekalahan. Apa yang sebenarnya menyebabkan runtuhnya Ottoman? Berikut enam faktor penyebab Ottoman runtuh, dilansir History, Rabu (3/3).

1. Ottoman terlalu agraris

Revolusi Industri yang melanda Eropa pada 1700-an dan 1800-an membuat ekonomi Ottoman tetap bergantung pada pertanian. Menurut Profesor di Princeton University Michael A. Reynolds, kekaisaran kekurangan pabrik untuk mengimbangi Inggris, Prancis, dan Rusia.

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi kekaisaran lemah dan surplus pertanian digunakan untuk membayar pinjaman kepada kreditor Eropa. Ketika tiba waktunya berperang dalam Perang Dunia I, Kesultanan Ottoman tidak memiliki kekuatan industri untuk memproduksi persenjataan berat, amunisi, serta besi dan baja yang dibutuhkan untuk membangun rel kereta api guna mendukung upaya perang.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA