Tuesday, 8 Ramadhan 1442 / 20 April 2021

Tuesday, 8 Ramadhan 1442 / 20 April 2021

Pasien Long Covid-19 Merasa Lebih Baik Pasca Vaksinasi

Rabu 03 Mar 2021 11:34 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

 Seorang dokter militer bersiap untuk menyuntikkan vaksin Sinovac dari China selama vaksinasi di Fort Bonifacio, Metro Manila, Filipina pada hari Selasa, 2 Maret 2021. Filipina meluncurkan kampanye vaksinasi untuk menahan salah satu wabah virus korona terburuk di Asia Tenggara tetapi menghadapi masalah pasokan dan perlawanan publik, yang diharapkan dapat diredakan dengan menyuntik pejabat tinggi.

Seorang dokter militer bersiap untuk menyuntikkan vaksin Sinovac dari China selama vaksinasi di Fort Bonifacio, Metro Manila, Filipina pada hari Selasa, 2 Maret 2021. Filipina meluncurkan kampanye vaksinasi untuk menahan salah satu wabah virus korona terburuk di Asia Tenggara tetapi menghadapi masalah pasokan dan perlawanan publik, yang diharapkan dapat diredakan dengan menyuntik pejabat tinggi.

Foto: AP Photo/Aaron Favila
Sepertiga pengidap long covid-19 merasa lebih baik usai mendapatkan vaksinasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Daniel Griffin, seorang dokter spesialis penyakit menular dan peneliti di Universitas Columbia, Amerika Serikat (AS) tidak yakin atas apa yang diharapkan ketika pasien dengan gejala infeksi virus corona jenis baru (COVID-19) kronis mulai divaksinasi. Ada beberapa kekhawatiran bahwa vaksin  justru dapat memperburuk keadaan karena ini memicu sistem kekebalan tubuh.

Namun, apa yang terjadi juga sebaliknya. Griffin mengatakan sejumlah rekan sesama dokter bertanya apakah pasien COVID-19 yang ditangani olehnya merasa lebih baik setelah divaksin.

“Ini tidak 100 persen, tapi sepertinya sekitar sepertiga,” ujar Griffin, dilansir The Verge, Rabu (3/3).

Laporan awal dari Griffin dan lainnya mengisyaratkan bahwa orang dengan gejala persisten dapat membaik setelah divaksinasi. Informasi masih terbatas dan sebagian besar data bersifat anekdot, namun jika polanya berlaku, itu dapat membantu para peneliti memahami lebih lanjut tentang mengapa gejala COVID-19 bertahan pada beberapa orang dan menawarkan solusi.

Banyak pasien Griffin yang sembuh dari COVID-19 mengalami efek samping yang signifikan setelah vaksin pertama dari Moderna atau Pfizer. Ini biasa terjadi pada orang yang pernah menderita infeksi virus corona jenis baru. Lantaran mereka sudah memiliki beberapa tingkat antibodi, jadi suntikan pertama bertindak lebih seperti penguat kedua.

Baca juga : Ketua DPRD Tolak Tegas Anies Ingin Jual Saham Perusahaan Bir

Selanjutnya, pasien dengan gejala kronis mulai melaporkan bahwa indra penciuman membaik dan merasa tidak terlalu lelah. Dalam beberapa hari pertama, mereka mungkin merasa dalam kondisi tidak baik, namun setelah vaksinasi tahap dua, hal ini berubah.

“Setelah mendapatkan vaksinasi tahap kedua, mereka benar-benar merasa seperti ada cahaya di ujung terowongan,” jelas Griffin.

Pasien COVID-19 terkadang mengalami penyakit jangka panjang seperti kelelahan, sesak napas, hingga kehilangan indera penciuman dan rasa. Banyak orang yang jatuh sakit selama gelombang pertama pandemi pada tahun lalu hingga saat ini belum pulih sepenuhnya.

Dokter seperti Griffin mempelajari lebih lanjut tentang apa yang disebut ‘long COVID’ atau gejala jangka panjang COVID-19, tetapi jawabannya masih terbatas. Diana Berrent, pendiri kelompok penyintas COVID-19 dan Survivor Corps mengatakan setiap petunjuk belum akan menjadi keajaiban.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA