Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

AS Amankan Stok Vaksin untuk Seluruh Warga Dewasa

Rabu 03 Mar 2021 07:32 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden AS Joe Biden .

Presiden AS Joe Biden .

Foto: AP/Andrew Harnik
Dua perusahaan farmasi besar AS Johnson & Johnson dan Merck memperluas vaksin.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan negaranya akan memiliki cukup dosis vaksin Covid-19 untuk seluruh warga dewasa di AS pada akhir Mei mendatang. Dia menyebut hal itu sebagai kemajuan penting.

Biden mengungkapkan, pemerintahan mantan presiden Donald Trump tak membuat cukup kesepakatan untuk memenuhi kebutuhan vaksin di AS. Sejak menjabat pada Januari lalu, Biden berusaha memperbaiki celah tersebut.

"Sekitar tiga pekan lalu, kami mengatakan bahwa kami akan memiliki cukup pasokan vaksin untuk orang dewasa pada akhir Juli. Dengan senang hati saya umumkan hari ini, sebagai konsekuensi peningkatan proses yang telah saya pesan dan baru saja dijelaskan, negara ini akan memiliki cukup pasokan vaksin untuk setiap orang dewasa di Amerika pada akhir Mei," kata Biden saat berbicara pada pengarahan pers di Gedung Putih pada Selasa (2/3).

Dengan perkembangan demikian, Biden tentu merasa plong. Sebab semasa kampanye pilpres AS akhir tahun lalu, dia memang kerap menyorot dan mengkritik cara Trump menangani pandemi. "Ini kemajuan, kemajuan penting," ujar Biden.

Biden mengungkapkan saat ini dua perusahaan farmasi terbesar di dunia, yakni Johnson & Johnson dan Merck, sedang bekerja memperluas produksi vaksin. Itu merupakan momen langka sebab kedua perusahaan itu saling bersaing. "Ini adalah jenis kolaborasi antara perusahaan yang kami lihat dalam Perang Dunia II,” ucap Biden.

Baca juga : Pesantren di AS akan Kenalkan Islam dan Indonesia

Dia menyebut guna meningkatkan produksi vaksinnya, Johnson & Johnson mengoperasikan fasilitas manufakturnya 24 jam nonstop selama sepekan. Saat ini AS masih menjadi negara dengan kasus Covid-19 tertinggi di dunia, yakni mencapai 28,7 juta kasus. Pandemi telah membunuh lebih dari 516 ribu warga di sana.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA