Wednesday, 2 Ramadhan 1442 / 14 April 2021

Wednesday, 2 Ramadhan 1442 / 14 April 2021

Kalimat “Syai’un lillahi lahumul fatihah", Apa Maknanya?  

Rabu 03 Mar 2021 02:10 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Kalimat Syai’un lillahi lahumul fatihah sering dibaca saat berdoa  Surat Al-Fatihah

Kalimat Syai’un lillahi lahumul fatihah sering dibaca saat berdoa Surat Al-Fatihah

Foto: Republika/ Nashih Nashrullah
Kalimat Syai’un lillahi lahumul fatihah sering dibaca saat berdoa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Umat Islam di Indonesia, khususnya warga Nahdliyin sering sekali mengungkapkan kalimat “syai’un lillahi lahumul fatihah”. 

Namun, mungkin sangat sedikit umat Islam yang mengetahui makna yang terkandung di dalamnya.  

Dalam tulisannya di Tanwirul Afkar, Dosen Senior Ma'had Aly Situbondo, KH Zainil Muin menjelaskan bahwa kata-kata ini kerap terdengar dari seorang kiai atau ustadz saat bertawassul dengan surat Al-Fatihah sebagai pembuka acara semisal tahlilan, yasinan, dan lain-lain. 

Baca Juga

Mengenai makna ungkapan tersebut, menurut dia, Sayyid Abdurrahman ibn Muhammad al-Masyhur Baalawi dalam Bughyat al-Mustarsyidin telah menjelaskan bahwa dari segi bahasa ungkapan “syai’un lillahi" artinya bahwa segala sesuatu adalah milik Allah SWT dan dilakukan karena Allah. Ungkapan ini, menurut dia, bukan ungkapan asli bahasa Arab, tetapi produk sebuah tradisi (h 297) . 

Adapun kata "lahumul fatihah” adalah semacam aba-aba pada jamaah yang hadir agar memulai membaca surat Al-Fatihah yang pahalanya diperuntukkan bagi para almarhum yang telah disebutkan nama-namanya sebelumnya. Ada kalanya tanpa "lahum" tetapi langsung “syai’un lillahil fatihah" 

Jika demikian, menurut Kiai Zainul Muin, maka dari tinjauan ilmu nahwu kata "Al-Fatihah" itu kedudukannya maf’ul dari fi’il (kata kerja) yang dibuang dan dikira-kirakan sesuai konteksnya, yaitu: اقرؤوا الفاتحة, artinya bacalah Al-Fatihah. 

Sebagai tradisi, bisa dijadikan sandaran hukum sepanjang tidak bertentangan dengan Alquran dan/atau hadits sesuai dengan kaidah fiqih «العادة محكمة» (tradisi atau kebiasaan itu bisa dijadikan landasan hukum). 

Kemudian, Syekh Ismail ibn Zain al-Yamani dalam kumpulan fatwanya, Qurrat al-Ain bi-Fatawa Ismal al-Zain, berkata: 

ومعني شئ لله مطلوبنا ومقصودنا شئ لله اي يستمد لوجه الله ابتغاء واستمدادا، لا لغيره ولا من غيره. ففيها اعتراف بان الذي يسوق المطالب ويحقق المأرب هو الله تعالي الخ

“Makna syai’un lillahi adalah bahwa tujuan dan kehendak kami adalah sesuatu yang merupakan milik Allah artinya ia memohon pada Dzat Allah dengan mengharap ridho dan bantuan hanya dari Allah, tidak pada dan dari selain Allah. Ini mengandung pengakuan bahwa yang merealisasikan keinginan-keinginan dan mengabulkan hajat-hajat adalah Allah Ta’ala semata.” (h 211).  

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA