Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Produksi Beras Januari April Diprediksi 14,5 Juta Ton

Senin 01 Mar 2021 14:43 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution / Red: Hiru Muhammad

Pekerja memeriksa logistik bantuan beras di gudang beras milik Gapoktan Sangkanwangi, Lebak, Banten, Sabtu (23/1/2021). Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Ketahanan Pangan menyediakan cadangan logistik pangan untuk bantuan korban bencana di daerah tersebut sebanyak 50 ton beras yang merupakan hasil produksi petani setempat.

Pekerja memeriksa logistik bantuan beras di gudang beras milik Gapoktan Sangkanwangi, Lebak, Banten, Sabtu (23/1/2021). Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Ketahanan Pangan menyediakan cadangan logistik pangan untuk bantuan korban bencana di daerah tersebut sebanyak 50 ton beras yang merupakan hasil produksi petani setempat.

Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas
Luas panen padi pada empat bulan pertama 2021 ini diperkirakan mencapai 4,86 juta ha

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan kenaikan produksi beras pada Januari-April 2021. Kenaikan tersebut didukung oleh naiknya produksi gabah karena luas panen yang berpotensi mengalami kenaikan dari tahun lalu.

Kepala BPS, Suhariyanto, mengatakan, luas panen padi pada empat bulan pertama 2021 ini diperkirakan mencapai 4,86 juta hektare (ha). Luas tersebut naik 26,53 persen dari capaian luas panen Januari-April 2020 yang sebesar 3,84 juta ha.

Dari potensi kenaikan luas panen itu, setidaknya diproyeksikan kenaikan produksi gabah kering giling (GKG) sebesar 26,68 persen dari 19,99 juta ton tahun lalu menjadi 25,37 ton tahun ini. Dari proyeksi itu, produksi beras bisa mencapai 14,54 juta ton. Angka itu naik 26,84 persen dari produksi Januari-April 2020 sebesar 11,46 juta ton.

"Curah hujan 2020 berdampak positif sehingga meningkatkan luas panen sepanjang Januari-April 2021. Pola ini mendekati pola tahun 2019," kata Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Senin (1/3).

Meski demikian, ia menekankan, proyeksi itu bisa meleset. Tak hanya secara kumulatif namun juga bulanan. Angka luas panen, produksi GKG dan beras bisa berubah tergantung dari kondisi cuaca yang dihadapi."Kita berharap cuaca berpihak kepada kita sehingga potensi ini menjadi realisasi dan produksi padi terjaga, harga stabil," kata Suhariyanto.

Suhariyanto menjelaskan, penghitungan potensi produksi tersebut juga menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA) yang sudah disusun sejak 2018 oleh enam kementerian dan lembaga pemerintah. Adapun metode pengamatan dilakukan  petugas pada minggu terakhir setiap bulannya. Jumlah lokasi pengamatan mencapai 227.790 titik.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA