Ahad 28 Feb 2021 19:14 WIB

Tapanuli Utara Kembangkan Pembuatan Tenun dari Serat Nanas

Usia terbaik nanas yang digunakan adalah satu hingga 1,5 tahun setelah ditanam.

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Tapanuli Utara memfokuskan pembuatan benang tenun dengan menggunakan serat nanas sebagai bahan dasar. (ilustrasi).
Foto: Republika/Prayogi
Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Tapanuli Utara memfokuskan pembuatan benang tenun dengan menggunakan serat nanas sebagai bahan dasar. (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, TARUTUNG -- Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Tapanuli Utara memfokuskan pembuatan benang tenun dengan menggunakan serat nanas sebagai bahan dasar. Hal ini dilakukan demi peningkatan perekonomian penenun dengan memanfaatkan serat nanas yang tersedia di daerah itu.

"Kami sedang fokus pembuatan benang dari serat nanas. Harganya pasti lebih murah, bahan dasar melimpah, dan kain hasil tenunan akan mengilap. Semuanya, secara khusus demi kesejahteraan komunitas penenun," kata Ketua Dekranasda Tapanuli Utara, Satika Simamora di Taurutung, Ahad (28/2).

Selain sebagai upaya meningkatkan penghasilan penenun, hal tersebut juga merupakan bentuk dukungan atas semangat Menparekraf Sandiaga Salahudin Uno untuk meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat di wilayah kawasan Danau Toba melalui Gernas BBI dan tagar #BeliKreatifDanauToba. Dalam pembuatan benang dari serat nanas,bagian nanas yang bisa diolah menjadi bahan benang adalah bagian daunnya yang memiliki lapisan dengan helai-helai serat yang merekat jadi satu oleh semacam lem.

Dia menyebut, berdasarkan informasi yang ada, usia terbaik untuk menggunakan serat nanas adalah 1-1,5 tahun setelah ditanam. "Jika terlalu muda, serat kain tidak akan kuat, sedangkan jika terlalu tua serat kain juga akan kasar," ujar Santika.

Kain yang dihasilkan oleh serat nanas memiliki ciri mengilap dan masih memperlihatkan sulur-sulur. Salah satu faktor yang menguntungkan adalah karena kebutuhan dasarnya terdapat di Tapanuli Utara.

"Nantinya, kami akan bersinergi dengan beberapa dinas," kata dia.

Satika berharap serat nenas sebagai bahan benang tenun segera dapat dimanfaatkan oleh para penenun di Tapanuli Utara. Saat ini, Dekranasda Tapanuli Utara sedang membuat buat proposal terkait permohonan bantuan untuk alatnya.

"Nantinya, semua bahan baku dan produksinya kita usahakan di Taput sehingga tidak perlu lagi membeli kebutuhan tersebut dari luar. Inilah harapan saya," ujarnya.

Menurut Satika, keberadaan benang serat nanas akan menjadi solusi demi peningkatan penenun atas kondisi harga benang tenun terkini yang berada di kisaran Rp 180 ribu per kilogram. Tak hanya itu, Satika juga menilai jika bahan serat nanas yang dipadu pewarnaan alami untuk bahan utama kain dengan hasil yang mengilap akan semakin memperindah tampilan terobosan fesyen berbahan kain ulos.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement