Wednesday, 9 Ramadhan 1442 / 21 April 2021

Wednesday, 9 Ramadhan 1442 / 21 April 2021

Perang Mematikan Perancis-Makassar di Thailand

Ahad 28 Feb 2021 05:40 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Perang Makassar

Perang Makassar

Foto: google.com
Perang Mematikan Perancis-Makassar di Thailand

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Subhan Mustaghfirin, Penulis Sejarah dan tinggal di Yogyakarta.

Perjanjian Bungaya tahun 1667, mengakhiri perang panjang selama 13 tahun antara Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin dan VOC. Walaupun disebut sebagai perjanjian damai namun seluruh isinya menunjukkan deklarasi kekalahan Kerajaan Gowa. 

Kekalahan dari Belanda dan orang Bugis dibawah Arung Palakka ini tidak diterima oleh sebagian besar panglima Kerajaan Gowa. Selain Laksamana Karaeng Galesong, Laksamana Karaeng Bontonompo dan Karaeng Bontomarannu, terdapat juga seorang lagi yaitu I Yandulu Daeng Mangalle pergi meninggalkan Makassar.

Daeng Mangalle pergi dari Makassar sebab ia tak terima dengan pengesahan Perjanjian Bongaya, kesepakatan yang justru melucuti superioritas Gowa-Tallo sebagai kekuatan maritim. Ia minggat, menolak tunduk pada Belanda.

Menurut Mohammad Laica Marzuki dalam bukunya "Siri': Bagian Kesadaran Hukum Rakyat Bugis-Makassar : Sebuah Telaah Filsafat Hukum", ia menulis bahwa adik dari Sultan Hasanuddin itu terpaksa meninggalkan tanah kelahiran pada tahun 1660 setelah difitnah salah satu istri raja.

Setelah menyingkir dan menetap selama tiga tahun di Jawa, Daeng Mangalle mempersunting Angke Sapiah, puteri salah satu raja yang disebut masih memiliki hubungan darah dengan raja-raja Makassar.

Daeng Mangalle kemudian pindah ke daratan Siam. Permintaan suakanya kepada Raja Ayutthaya saat itu, Somdet Phra Narai (Ramathibodi III), dikabulkan. Singkat cerita, Daeng Mangalle beserta keluarga dan 250 pengikutnya yang terdiri dari pria, wanita dan anak-anak menjejakkan kaki di Kerajaan Ayutthaya pada tahun 1664.

Selanjutnya, Paul Gervaise, sejarawan Perancis melukiskan kedatangan mereka di sambut baik oleh Raja Narai dan bahkan mereka diberi pemukiman di pinggir sungai bertetangga dengan perkampungan orang Melayu. Kebetulan orang Melayu dan Makassar sama-sama memeluk agama Islam.

Dengan reputasi sebagai pasukan ulung, orang-orang Makassar waktu itu tak sulit membangun relasi dengan beberapa kelompok lain seperti Minangkabau, Campa, Gujarat, dan masih banyak lagi.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA