Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Hencky: KLB Demokrat Solusinya, AHY Pasti Kami Lengserkan

Sabtu 27 Feb 2021 18:23 WIB

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Yudha Manggala P Putra

Anggota Forum Pendiri Partai Demokrat Hencky Luntungan (kiri) menyampaikan keterangan pers terkait perkembangan masalah internal partai mereka di Jakarta, Sabtu (27/2/2021). Ia bersama anggota Forum Pendiri Partai Demokrat lainnya mendesak Kongres Luar Biasa (KLB) untuk mengatasi ragam persoalan internal partai, salah satunya adalah kepemimpinan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang mereka nilai kurang mampu dalam memimpin partai.

Foto:
Forum Pendiri mendorong Kongres Luar Biasa untuk memilih ulang pemimpin baru.

Ilal Farhat, yang mengaku juga sebagai salah satu pendiri, dalam forum tersebut menyampaikan hal serupa. Kata dia, internal Partai Demokrat sejak penunjukan’ AHY sebagai ketua umum, telah membuat faksi-faksi dan perpecahan.

Kondisi tersebut bagi dia terjadi lantaran keputusan politik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memaksakan kehendak agar Partai Demokrat menjadi kelompok politik "Keluarga Cikeas".

“Jadi pilihannya ada dua. Satu, Partai Demokrat ini harus dibubarkan. Atau (kedua) diselamatkan,” kata Ilal.

Dia mengeklaim, forum pendiri, mudah saja memilih jalan pembubaran partai. Tetapi, menurutnya, masih ada waktu bagi kader-kader partainya untuk memperbaiki lewat mekanisme formal yakni KLB. “Karena kami sebagai pendiri, juga melihat ini, sebagai rapor merah, dengan melihat SBY melakukan KKN, dalam hal ini nepotisme,” ujar Ilal.

Partai Demokrat pada Jumat (26/2) mengumumkan pemecatan terhadap tujuh kadernya. Pemecatan tersebut diduga buntut dari isu "kudeta" kepemimpinan AHY.

Tujuh kader Partai Demokrat yang dipecat yakni Marzuki Alie, Jhoni Allen Marbun, Darmizal, dan Yus Sudarso, dan Tri Yulianto, Syofwatillah Mohzaib, serta Ahmad Yahya. Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra, menyampaikan salah satu alasan pemecatan karena dinilai ada pelanggaran etika berat.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA