Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Ketidakadilan Membayangi Paspor Vaksinasi

Sabtu 27 Feb 2021 02:38 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Friska Yolandha

Paspor vaksinasi akan meningkatkan kesenjangan karena belum semua mendapatkan vaksin.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Cahaya ungu menyinari panggung klub saat 300 orang bermasker dan menjaga jarak memberikan tepuk tangan meriah. Untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19 dimulai, musisi Israel Aviv Geffen melangkah ke piano elektriknya dan mulai bermain untuk penonton yang duduk tepat di depannya.

"Sebuah keajaiban terjadi di sini malam ini," kata Geffen kepada orang banyak, dilansir dari laman AP News, Jumat (26/2).

Namun, pengalaman menghidupkan kembali malam Senin di atas pusat perbelanjaan di utara Tel Aviv tidak dapat diakses oleh semua orang. Hanya orang yang menunjukkan 'paspor hijau' yang membuktikan bahwa mereka telah divaksinasi atau telah pulih dari Covid-19 yang bisa masuk.

Konser yang sangat terkontrol ini menawarkan sekilas masa depan yang dirindukan banyak orang setelah berbulan-bulan terjadi pembatasan akibat Covid-19. Pemerintah mengatakan, mendapatkan vaksinasi dan memiliki dokumentasi yang tepat akan memperlancar perjalanan, hiburan, dan pertemuan sosial lainnya di dunia pasca pandemi Covid-19.

Namun, hal itu meningkatkan prospek untuk membagi dunia lebih jauh dalam hal kekayaan dan akses vaksin. Serta, menciptakan masalah etika dan logistik yang mengkhawatirkan para pembuat keputusan di seluruh dunia.

Pemerintah lain sedang menyaksikan Israel melakukan program vaksinasi tercepat di dunia dan bergulat dengan etika menggunakan suntikan sebagai mata uang dan kekuasaan diplomatik. Di dalam Israel, paspor hijau atau lencana yang diperoleh melalui aplikasi adalah koin dunia. 

Negara ini baru-baru ini mencapai kesepakatan dengan Yunani dan Siprus untuk saling mengakui lencana hijau, dan diharapkan ada lebih banyak kesepakatan yang meningkatkan pariwisata. Menteri Kesehatan Israel, Yuli Edelstein mengatakan, siapapun yang tidak mau atau tidak bisa mendapatkan suntikan untuk memberikan kekebalan tubuh akan tertinggal.

"Ini benar-benar satu-satunya cara maju saat ini," kata Geffen dalam wawancara dengan The Associated Press.

Pemeriksaan di pintu klub, yang hanya mengakui mereka yang bisa membuktikan bahwa mereka telah divaksinasi penuh, setidaknya menunjukkan kenormalan. “Orang tidak bisa menjalani hidup di dunia baru tanpa mereka, kita harus divaksin. Kita harus," ujar Geffen.

Vaksin tidak tersedia untuk semua orang di dunia, baik karena persediaan maupun biaya. Dan beberapa orang tidak menginginkannya, karena alasan agama atau lainnya. 

Di Israel, negara berpenduduk 9,3 juta orang, hanya sekitar setengah dari populasi orang dewasa yang telah menerima dua dosis vaksin yang dibutuhkan.

Ada tekanan baru dari pemerintah untuk mendorong vaksinasi. Anggota parlemen Israel pada Rabu mengesahkan undang-undang yang memungkinkan Kementerian Kesehatan untuk mengungkapkan informasi tentang orang-orang yang belum divaksinasi. 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA