Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

WFH Berpotensi Timbulkan Stres

Kamis 25 Feb 2021 20:13 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Qommarria Rostanti

WFH bisa berpotensi timbulkan stres.

WFH bisa berpotensi timbulkan stres.

Foto: www.freepik.com.
Secara global, hampir satu miliar orang memiliki masalah kesehatan mental.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pandemi Covid-19 yang masih terjadi menjadi tantangan bagi setiap pihak, tak terkecuali bagi para pekerja. Mereka dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perubahan yang ada, salah satunya dengan bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

Meski pada awalnya konsep ini dianggap menyenangkan, namun seiring dengan berjalannya waktu, WFH mulai menjadi polemik yang berpotensi menimbulkan stres. Apabila tidak ditangani dengan baik, maka dapat berujung pada gangguan kesehatan mental.

Kesehatan mental tidak hanya berkenaan dengan gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Namun kesehatan mental juga mengacu pada kondisi sehat secara menyeluruh, di mana setiap individu sadar akan kemampuannya dan dapat mengatasi tekanan hidup.

Untuk dapat mengindentifikasi apakah seseorang memiliki masalah kesehatan mental atau tidak, itu bukan hal mudah sehingga cenderung berpotensi sebagai silent killer bagi penderitanya. "Hal ini disebabkan karena setiap individu membutuhkan waktu bertahun-tahun, sebelum akhirnya merasa nyaman untuk dapat membuka diri terhadap masalah kesehatan mental mereka," kata Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Saat menyadarinya, sering kali sudah terlambat untuk mengatasinya. Hanya karena masalah kesehatan mental tidak terlihat, bukan berarti kesehatan mental itu tidak ada.

Secara global, hampir satu miliar orang memiliki masalah kesehatan mental. Orang dengan kondisi mental serius banyak yang tutup usia dua dekade lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak menderita penyakit mental. 

Berdasarkan Statista Research Department, terdapat 2,99 juta orang Indonesia yang menderita gangguan jiwa pada 2020. Sementara itu, dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJI), terdapat 68 persen peserta yang melakukan swaperiksa dari 31 provinsi, mengalami masalah psikologis. 

Kesehatan mental ini masih menjadi topik yang kurang dipahami. Hal ini disebabkan adanya stigma sosial dan kebutuhan akan biaya pada perawatan pasien gangguan jiwa, banyak penderita kesehatan mental tidak mendapatkan pengobatan.

Pandemi semakin memperburuk krisis kesehatan mental secara global, para pelaku bisnis harus menyadari bahwa masalah kesehatan mental merupakan hal penting di lingkungan kerja. Buruknya kesehatan mental para karyawan dapat mempengaruhi kinerja bisnis.

Untuk itu, penting bagi pelaku bisnis dan karyawan, untuk bersama-sama menyadari bahwa kesehatan mental merupakan bagian dari aspek kesehatan yang harus dianggap lumrah, dan bukan untuk dianggap sebagai stigma negatif.

Vice President 3M Asia Corporate Affair, Jim Falteisek, memahami kondisi yang memang belum pernah terjadi sebelumnya. "Tanpa kekuatan dan ketahanan dari para karyawan, kegiatan usaha tidak akan bertahan di masa pandemi ini," ujarnya dalam keterangan tertulisnya.

Menurut dia, kesehatan mental karyawan menjadi hal yang utama. Dengan adanya kepedulian terhadap hal ini, diharapkan dapat menciptakan kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan para karyawan, sekaligus membangun harapan akan masa depan kerja yang lebih baik.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA