Wednesday, 2 Ramadhan 1442 / 14 April 2021

Wednesday, 2 Ramadhan 1442 / 14 April 2021

The Fed Belum Berencana Naikkan Suku Bunga

Kamis 25 Feb 2021 09:45 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolandha

Chairman Bank Sentral Amerika Serikat Jerome Powell.

Chairman Bank Sentral Amerika Serikat Jerome Powell.

Foto: AP Photo/Susan Walsh
Bank sentral AS masih fokus menciptakan lapangan kerja bagi yang terdampak pandemi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan bank sentral belum berencana mulai menaikkan suku bunga. Sebab bank sentral AS tersebut lebih memfokuskan penciptaaan lapangan pekerjaan agar inflasi tidak terjadi pada tahun ini.

Seperti dilansir AP News, Kamis (25/2), Powell memperingatkan banyak pekerja di industri yang paling terpukul akibat pandemi dan resesi harus mencari pekerjaan lain. Powell mengatakan kepada Komite Jasa Keuangan DPR bahwa The Fed tidak terburu-buru untuk menaikkan suku bunga acuan jangka pendeknya atau memangkas 120 miliar dolar AS pembayaran obligasi bulanan yang digunakan untuk menekan penurunan tarif jangka panjang.

Pasar keuangan pulih setelah komentar Powell. Padahal, pasar keuangan mulai melemah di tengah kekhawatiran inflasi lebih tinggi yang dapat memicu pengetatan kondisi kredit. Tren itu berlanjut dengan indeks S&P 500 naik lebih dari satu persen.

Baca Juga

Powell mengatakan Fed tidak melihat adanya indikasi inflasi dapat berlomba di luar kendali. Sementara terkait kenaikan harga dalam beberapa bulan mendatang, Powell mengatakan kenaikan itu diharapkan bersifat sementara dan bukan merupakan tanda ancaman inflasi jangka panjang.

Dia mengatakan bank sentral tidak akan mulai memangkas 120 miliar dolar AS pembelian obligasi bulanan sampai kemajuan substansial lebih lanjut telah dibuat menuju tujuan Fed pada inflasi dan lapangan kerja. 

“Kenaikan suku bunga acuan The Fed, sekarang di rekor terendah nol hingga 0,25 persen, tidak akan terjadi sampai Fed melihat inflasi mencapai target dua persen dan berjalan sedikit di atas tingkat itu, dengan penurunan lapangan kerja ke tingkat yang dipandang sebagai lapangan kerja maksimum,” kata Powell.

Meskipun tingkat pengangguran resmi AS pada Januari turun menjadi 6,3 persen, tingkat sebenarnya mendekati 10 persen ketika memperhitungkan jutaan orang yang telah menyerah untuk mencari pekerjaan. Bahkan saat pasar kerja membaik, sebagian dari 10 juta orang yang masih menganggur mungkin akan kesulitan mendapatkan pekerjaan baru.

“Dalam banyak kasus, pekerjaan yang ditinggalkan orang mungkin sudah tidak ada lagi, yang berarti para pekerja tersebut akan memerlukan akses ke pelatihan ulang pekerjaan untuk mendapatkan pekerjaan pada bidang lain,” kata Powell.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA