Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Soal Kerumunan Kunker Jokowi, KSP: Tak Terhindarkan

Rabu 24 Feb 2021 19:10 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Agus Yulianto

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Bendungan Napun Gete di Desa Ilinmedo, Kecamatan Waiblama, Sikka, NTT, Selasa (23/2) sore WITA.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Bendungan Napun Gete di Desa Ilinmedo, Kecamatan Waiblama, Sikka, NTT, Selasa (23/2) sore WITA.

Foto: Setkab
Dalam kasus kunker di NTT, masyarakat sudah lebih dulu menunggu kehadiran Presiden.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kantor Staf Kepresidenan ikut bersuara soal polemik kerumunan massa yang muncul saat kunjungan kerja (kunker) Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Maumere, NTT, Selasa (23/2) kemarin. Tenaga Ahli Utama KSP Donny Gahral Adian menilai, kerumunan yang terjadi memang tidak dapat dihindari. Masyarakat, ujarnya, diyakini telah lama menanti kedatangan Presiden. 

"Jadi ya hal yang tidak terhindarkan. Saya kira, ini menjadi pelajaran untuk tata kelola pengamanan standar protokol kesehatan di kemudian hari," kata Donny, Rabu (24/2). 

Mengenai tudingan sebagian pihak bahwa Presiden Jokowi melanggar protokol kesehatan, Donny merasa hal itu keliru. Menurutnya, bukan Presiden yang melanggar karena dalam kegiatan kunker ke daerah ada elemen tanggung jawab pemerintah daerah dan pengawalan Presiden. 

"Kan bukan Presiden yang melanggar. Ini ada elemen pemerintah daerah, elemen pengawalan Presiden. Ini sesuatu yang berbeda. Jadi, Presiden kan simbol negara yang pasti akan mengundang banyak massa, tidak manajemen pengawalan dan pengaturan kerumunan saja sebenarnya. Tapi, ini bisa jadi bahan evaluasi," kata Donny. 

Dia menambahkan, Presiden Jokowi dalam kapasitas pemimpin negara yang tetap berupaya menjalankan protokol kesehatan. Hanya saja, ujarnya, dalam kasus kunker di NTT kemarin masyarakat sudah lebih dulu menunggu kehadiran Presiden. 

"Betul, enggak mungkin lah Presiden kemudian datang sepi-sepi saja. Ini sudah bisa diprediksi, tapi tidak seperti yang dibayangkan kerumunannya. Manajemen antisipasi dan mitigasinya harus diperbaiki," kata Donny. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA