Tuesday, 1 Ramadhan 1442 / 13 April 2021

Tuesday, 1 Ramadhan 1442 / 13 April 2021

Syarat Ikuti Vaksinasi Bagi Pemilik Komorbid

Rabu 24 Feb 2021 18:27 WIB

Red: Indira Rezkisari

Tenaga pendidikan menunggu giliran vaksinasi Covid-19 di SMA Negeri 70, Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (24/2). Sebelum divaksin pastikan tubuh dalam keadaan sehat. Khusus bagi pemilik komorbid, kondisi penyakit harus sudah terkontrol agar bisa bisa divaksin.

Tenaga pendidikan menunggu giliran vaksinasi Covid-19 di SMA Negeri 70, Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (24/2). Sebelum divaksin pastikan tubuh dalam keadaan sehat. Khusus bagi pemilik komorbid, kondisi penyakit harus sudah terkontrol agar bisa bisa divaksin.

Foto: Republika/Thoudy Badai
Tidak semua pemilik komorbid tidak bisa divaksin Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Antara, Israr Itah

Seiring dengan bergulirnya program vaksinasi tahap kedua, maka semakin banyak anggota masyarakat yang sudah atau akan divaksin. Pada dasarnya vaksinasi Covid-19 sama seperti vaksin lainnya, yaitu hanya bisa diberikan kepada mereka yang dalam kondisi sehat.

Lalu bagaimana dengan masyarakat yang memiliki komorbid atau penyakit penyerta? Apakah semua orang dengan komorbid tidak bisa divaksin?

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lampung mengatakan orang dengan komorbid dapat divaksinasi asalkan tidak ada komplikasi penyakit. "Sekarang orang dengan penyakit bawaan, lanjut usia dan penyintas Covid-19 sudah bisa divaksinasi, tapi tetap ada batasannya dan tidak ada kompilkasi penyakit," kata Wakil Ketua IDI Lampung dr Boy Zaghlul Zaini MKes di Bandarlampung, Rabu (24/2).

Ia mengatakan, saat ini orang dengan hipertensi 140 sampai 180 boleh divaksinasi. Sedangkan mereka yang memilki tekanan darah 180 ke atas tidak diperbolehkan.

Kemudian, untuk orang yang diabetes juga sekarang bisa divaksinasi meskipun HbA1c di atas tujuh. Asalkan mereka tidak memiliki komplikasi penyakit.

"Semua juga harus terkontrol oleh obat dan tidak ada penyakit komplikasi. Kan nanti sebelum divaksinasi akan ada assement dari Dinas Kesehatan untuk mengetahui kondisi masyarakat yang ingin divaksinasi," katanya.

Bahkan, lanjut dia, untuk orang yang memilki alergi pun boleh saja divaksinasi kalau kondisi tubuhnya sehat sebab penyakit tersebut timbul akibat dari makanan atau obat. "Kalau misal ada asma tapi tidak akut saya rasa tidak apa divaksinasi, karena kan asma juga timbul dari alergi, jika kondisi tubuhnya bagus tidak masalah," kata dia.

Selain itu, kata dia, berdasarkan instruksi Kementrian Kesehatan, penyintas Covid-19 pun setelah tiga bulan sembuh bisa divaksinasi, begitu pula dengan ibu menyusui.

Menurutnya, Kementerian Kesehatan dan BPOM mengizinkan lansia, penyintas Covid-19, orang dengan penyakit bawaan, dan ibu menyusui dapat divaksinasi tentunya telah melakukan analisa dan penelitian serta rekomendasi dari para ahli. "Itu juga sudah mendapat persetujuan dari ahli imunisasi dan penyakit dalam. Yang belum bisa divaksinasi itu hanya orang yang memiliki penyakit auto imun seperti HIV dan Lupus," kata dia.

Kepala Lembaga Biologi Molekular Eijkman, Prof. dr. Amin Soebandrio, PhD, Sp.MK (K) memaparkan vaksinasi memiliki manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan risiko yang akan diterima. Untuk itu, tidak perlu khawatir untuk divaksinasi karena ini merupakan salah satu cara untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

Sederhananya, kata dia, kita membandingkan dua hal, manfaatnya dan risikonya. Semua vaksin pasti ada kedua hal tersebut.

Menurut Amin, semua pihak mengharapkan manfaatnya jauh lebih besar daripada risikonya. "Apa saja risiko yang mungkin dihadapi seseorang ketika vaksinasi? Minimal sakit pada waktu disuntik, itu merupakan salah satu risiko, tapi bisa diterima dan diabaikan," kata Amin dalam keterangan media yang diterima, Senin (18/1).

Menurut Amin, manfaatnya lebih besar dirasakan. Ia tak melihat satu risiko yang serius dari vaksinasi. Bila vaksinasi berhasil dan diterima, maka orang-orang yang divaksinasi bisa melindungi orang yang tidak bisa divaksinasi.

Sebab, pasti ada beberapa orang yang tidak bisa divaksinasi dengan alasan kesehatan, tapi mereka juga butuh perlindungan. "Siapa yang melindungi? Tentu yang mampu melindungi adalah orang yang divaksinasi," kata Amin.






BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA