Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Dokter Temukan Gejala Covid-19 Baru pada Pasien Kritis

Rabu 24 Feb 2021 15:52 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi Covid-19

Ilustrasi Covid-19

Foto: Pixabay
Pasien covid-19 yang kritis mungkin mengalami sejumlah kelainan mata.

REPUBLIKA.CO.ID, NEWYORK -- Studi penelitian terbaru menemukan pasien virus corona yang sakit kritis dapat mengalami sejumlah kelainan mata. Studi diterbitkan dalam jurnal Radiology baru-baru ini.

Tingkat infeksi virus korona di Amerika Serikat (AS) telah menurun tajam dalam beberapa pekan terakhir hingga turun 40 persen selama 14 hari terakhir.

"Kami menunjukkan beberapa pasien dengan COVID-19 akut dari kohort COVID-19 Prancis memiliki satu atau beberapa nodul di kutub posterior bola matanya," tulis penulis utama studi, Augustin Lecler dalam siaran pers dilansir dari BGR pada Rabu (24/2).

Lecler menyebut ini adalah pertama kalinya temuan dideskripsikan menggunakan MRI. Penelitian tersebut dilakukan oleh French Society of Neuroradiology dan melibatkan 129 pasien yang mengalami gejala Covid parah, yang sebagian besar menghabiskan waktu di ICU dan diintubasi.

Lecler mengakui penelitiannya agak terbatas sejauh tidak ada kelompok kontrol dan ukuran sampel pasien yang dievaluasi cukup rendah. Namun, penelitian tersebut menggarisbawahi betapa parahnya infeksi virus Corona.

"Dan meskipun COVID-19 dikategorikan sebagai masalah pernapasan, virus kadang-kadang dapat menimbulkan malapetaka di sejumlah organ dan, dalam prosesnya, dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan jantung permanen," tulis Lecler.

Sehubungan dengan mata, Mayo Clinic menulis kasus virus corona yang parah dapat menyebabkan masalah mata. Misalnya pembesaran, pembuluh darah merah, kelopak mata bengkak, penyiraman berlebihan, dan peningkatan cairan.

Sensitivitas cahaya dan iritasi juga telah dilaporkan oleh pasien. Salah satu aspek yang lebih menakutkan dari infeksi COVID-19 adalah beberapa pasien mengalami gejala yang menetap selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelah diagnosis awal.

"Gejala paling umum yang terkait dengan COVID berkepanjangan termasuk kelelahan, kesulitan bernapas, hilangnya rasa dan bau, dan berbagai masalah kognitif seperti kehilangan ingatan dan kesulitan berkonsentrasi," tulis penelitian Mayo Clinic.

Mayo Clinic menekankan pentingnya tetap mematuhi pedoman keamanan virus corona meski tingkat infeksi telah menurun drastis dalam beberapa pekan terakhir.

"Artinya, orang harus mengenakan masker saat berada di tempat umum, mengikuti pedoman jarak sosial, dan menghindari pertemuan di dalam ruangan jika memungkinkan," tutup Mayo Clinic.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA