Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Mualaf Jeffry Gunawan, Ujian demi Ujian Kuatkan Imannya

Rabu 24 Feb 2021 05:45 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah

Mualaf Jeffry Gunawan bersyukur atas ujian demi ujian yang dia terima.

Mualaf Jeffry Gunawan bersyukur atas ujian demi ujian yang dia terima.

Foto: Dok Istimewa
Mualaf Jeffry Gunawan bersyukur atas ujian demi ujian yang dia terima.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Jeffry Gunawan (29 tahun) merupakan pria kelahiran Surabaya. Masa kecilnya dihabiskan di Kota Pahlawan.

Dia dan keluarganya merupakan penganut agama yang taat. Sejak taman kanak-kanak, Koh Jeff, sapaan akrabnya, bersekolah di sekolah swasta yang berafiliasi dengan agama yang dianutnya. Koh Jeff menempuh pendidikan di satu yayasan yang sama hingga kelas dua SMP. Di saat itu, keluarganya memutuskan untuk menyekolahkannya di NTT, tepatnya Sumba Barat.  

Di perantauan inilah, Koh Jeff pertama kali mengenal Islam melalui akhlak teman dan keluarganya ketika kelas dua SMK. "Dulu saya diizinkan untuk mengendarai motor sehingga saya sering membonceng teman saya, antar jemput," jelas dia.

Sama seperti dia, teman, sebut saja Anto, dan keluarganya juga adalah perantauan asal Malang. Rutinitasnya bertemu dengan Anto dan keluarganya menjadikan dia memiliki pandangan yang berbeda dengan sebuah keluarga. Hal yang tak pernah dia lakukan dengan kedua orang tuanya selama 17 tahun, mencium tangan dan pamit saat berangkat dan pulang sekolah. 

Bahkan, ibunya tak segan untuk menawarinya makan siang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Koh Jeff akui, dia bukanlah anak yang patuh dan terkesan bandel. Perhatian Ibu Anto membuatnya tersentuh.  

Ini kali pertama Koh Jeff melihat kesantunan seorang Muslim dan keharmonisan keluarga. Namun, kisah ini tak cukup kuat untuk dia menjadi Muslim. Selain akrab dengan teman sekolah, Koh Jeff juga tetap taat beribadah meski jauh dari rumah.

Baca juga : 10 Film Fiksi Ilmiah Seru yang Tayang di Youtube

Dia diajak temannya untuk aktif ke gereja, tapi berbeda dari agamanya. Dia didaulat sebagai pemusik, khususnya drumer dan komposer. Tak hanya di tempat ibadah, keahliannya pun dia manfaatkan untuk mendapatkan uang saku.  

Banyak panggilan untuknya bermain musik hingga lintas kabupaten. Belakangan, bermain musik kemudian menjadi profesi baginya. Karena sangat mencintai hobi dan profesinya, tubuhnya pun dipenuhi dengan lukisan tato tentang musik dan peralatan musik lainnya.   

Setelah lulus sekolah...

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA