Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Menelaah Hubungan Klasik Dokter dan Pasien di Masa Pandemi

Selasa 23 Feb 2021 20:51 WIB

Red: Hiru Muhammad

Keberhasilan komunikasi yang dibangun antara dokter dan pasien menjadi penentu keberhasilan pengobatan pasien

Keberhasilan komunikasi yang dibangun antara dokter dan pasien menjadi penentu keberhasilan pengobatan pasien

Foto: istimewa
Tujuan komunikasi antara dokter dan pasien mencari kesembuhan atas penyakit pasien

REPUBLIKA.CO.ID,--Komunikasi menjadi aspek yang sangat strategi dalam kehidupan manusia. Hampir seluruh bidang masalah yang dihadapi manusia tidak terlepas dari aspek komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena itu ketrampilan dalam berkomunikasi mutlak diperlukan manusia agar masalah terselesaikan dengan baik. Sehingga pihak yang terlibat dalam komunikasi mendapatkan kepuasan atas keterangan seperti yang dibutuhkannya. 

Hal serupa juga berlaku dalam dunia kedokteran. Kekuatan komunikasi dalam dunia medis yang paling utama adalah hubungan antara dokter dan pasien. Bukan rahasia lagi bila hubungan dokter dan pasien ini merupakan kasus klasik yang selalu muncul dalam dunia medis. Sikap dokter yang ïrit bicara, terlalu sibuk, kurang terbuka atau kurang menguasai masalah penyakit pasien, salah diagnosa, mempengaruhi pola hubungan yang dibangun.

Demikian juga dengan sikap pasien yang kurang memahami riwayat penyakitnya, sikap masa bodoh atau tingkat pendidikan rendah sehingga kurang memahami penjelasan dokter selalu mewarnai hubungan dokter dan pasien. Padahal komunikasi yang efektif antara dokter dengan pasien elemen penting dari praktek medis yang berhasil (Beukeboom, 2014). 

Hubungan antara pasien dan dokter yang mengalami pasang surut ini dibahas dalam Komunikasi Kesehatan dengan pendekatan antarbudaya karya dua pakar komunikasi terkemuka Tanah Air, Prof Deddy Mulyana Phd dan Dr Leila Mona Ganiem Msi. Budaya yang telah menjadi latar dari pemikiran atau prilaku seseorang, tentunya akan memberi corak baginya dalam berkomunikasi dengan orang lain. 

Tujuan hubungan komunikasi antara dokter dan pasien adalah mencari kesembuhan atas penyakit yang diderita pasien. Namun untuk mencapai itu harus melalui sebuah proses panjang kedua pihak mengenai penyakit, tujuan perawatan dan dukungan psikososial yang kesemuanya dikenal dengan istilah komunikasi terapeutik. Komunikasi ini dirancang secara sadar, melalui pertukaran pemikiran  dan perasaan dengan maksud mempengaruhi orang lain. (Stuart&Sundeen, 1995).

Dalam komunikasi ini juga dilakukan upaya mengumpulkan berbagai informasi terkait penyakit yang diderita pasien, riwayat hidup pasien, prosedur perawatan agar proses pengobatan berjalan efektif. Proses komunikasi dilakukan secara tatap muka sehingga terbangun penyembuhan fisik dan mental yang diyakini menjadi salah satu senjata mujarab dalam melawan penyakit. 

Dengan datangnya musim pandemi Covid-19 saat ini, kehadiran buku ini cukup tepat disaat dunia sedang meratapi wabah mematikan yang menguras tenaga, biaya, pikiran hingga kehilangan orang tercinta di berbagai belahan dunia. Buku ini juga tidak lupa menyinggung keragaman istilah komunikasi yang digunakan pemerintah seperti AKB, PSBB, OTG, ODP, APD, SARS-CoV-2, Covid-19, virus Covid-19 dan lainnya telah melahirkan kebingunan bagi masyarakat dalam memahami isi pesan yang dimaksud.

Ketika wabah merebak, masyarakat belum memahami apa itu Corona atau Covid-19. Meski media sudah membanjiri berbagai informasi tentang Covid-19 dari pemerintah kepada masyarakat, namun hal itu belum dapat diterima sepenuhnya oleh masyarakat mengingat tingkat pemahaman mereka yang beragam.  

Sayangnya buku ini kurang didukung sajian gambar atau tabel yang menarik  bagi pembaca. Gambar yang disajikan juga terlalu kecil dan kurang dilengkapi dengan penjelasan yang memudahkan pembaca memahaminya.  Buku setebal 418 halaman ini berhasil diselesaikan tanpa melalui proses tatap muka karena pertimbangan keselamatan dan kesehatan, apalagi pandemi belum menunjukkan kepastian kapan akan berakhir. Namun, diskusi jarak jauh yang dilakukan melalui zoom, email atau whatsapp tidak mengurangi mutu karya yang dihasilkan. Hal itu tak terlepas dari tekad yang telah dicanangkan penulis jauh sebelum pandemi dan segera dituntaskan saat pandemi tiba. 

Semoga buku yang sarat dengan kontribusi karya dari sejumlah pakar medis di Tanah Air ini dapat menjadi sumber inspirasi, edukasi dan motivasi bagi pemangku kepentingan, kalangan medis maupun masyarakat luas khususnya pemerhati komunikasi kesehatan. Mengingat masalah medis dan kesehatan menjadi masalah klasik yang selalu mengiringi kehidupan manusia dimanapun sampai kapanpun.  

Judul buku: Komunikasi Kesehatan Pendekatan Antarbudaya

Penulis  : Prof Deddy Mulyana MA, Phd

              Dr Leila Mona Ganiem Msi

Penerbit : Kencana

Tebal    : 418

Tahun    : 2021

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA