Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Mamah Dedeh: Perempuan Punya Kewajiban Dakwah

Selasa 23 Feb 2021 14:41 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Esthi Maharani

Ustazah Mamah Dedeh

Ustazah Mamah Dedeh

Foto: Thoudy Badai_Republika
Tidak ada salahnya perempuan yang berdakwah karena dibutuhkan kaum perempuan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ustazah Mamah Dedeh menyampaikan bahwa perempuan punya kewajiban berdakwah. Hal ini disampaikan Mamah Dedeh untuk menanggapi rencana Masjid Istiqlal yang akan mengkader dan melahirkan ulama-ulama perempuan pengkaji Alquran dan hadist.

"Menurut pendapat saya perempuan punya kewajiban untuk berdakwah, karena perempuan punya hak dan kewajiban yang sama dengan kaum laki-laki," kata Mamah Dedeh kepada Republika, Selasa (23/2).

Ia menerangkan, perempuan jika punya kemampuan tidak dilarang menjadi pemimpin. Sejarah mengabarkan bahwa Aisyah istri Nabi Muhammad SAW pernah menjadi panglima perang dalam perang Unta. Artinya perempuan tidak dilarang menjadi seorang pendakwah.

Menurutnya, berdasarkan hasil survei membuktikan jumlah perempuan lebih banyak dibanding jumlah laki-laki. Bagaimana jadinya seandainya yang berdakwah hanya kaum laki-laki, sementara jumlah perempuan sangat banyak.

"Ketika pendakwah harus menerangkan masalah hukum fikih, saya yakin ada masalah (hukum fikih) yang risih (tidak nyaman) kalau laki-laki sampaikan di hadapan perempuan yang banyak," ujarnya.

Mamah Dedeh berpandangan, tidak ada salahnya perempuan yang berdakwah karena dibutuhkan kaum perempuan. Semoga yang berdakwah bisa menyesuaikan atau adaptasi dengan audiens yang dihadapinya. Agar yang didakwahi bisa menerima pesan-pesan dakwah.

Mamah Dedeh juga mengutip sejumlah ayat Alquran, hadis dan sejarah yang menunjukan bahwa perempuan punya hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki.

Ia menerangkan, misalnya dalam Surah Al Baqarah Ayat 158. Dijelaskan saat haji dan umrah melakukan sa'i. Sa'i adalah napak tilas Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim. Artinya mencari rezeki dan kehidupan diwajibkan bagi laki-laki dan perempuan.

"Sejarah mengabarkan Nabi Muhammad SAW adalah pegawainya Siti Khadijah, yang berdagang dagangan Siti Khadijah, artinya perempuan jadi pemimpin tidak dipermasalahkan selama dia punya kemampuan dan kemauan," ujarnya.

Mamah Dedeh menceritakan, Umm Salamah istri Nabi Muhammad SAW adalah perempuan hebat, ia seorang penyamak kulit. Kemudian ada Rabiah al-Adawiyah, seorang perempuan hebat yang menjadi ilmuan.

Bahkan, Rasulullah SAW bersabda, kalau kalian butuh ilmu agama belajar kepada Alhumairah Aisyah. Rasulullah pun mengatakan separuh ilmu agama ada dalam diri Aisyah.

"Sayyidah Nafisah putri Hasan bin Ali bin Abu Thalib, ia (Sayyidah Nafisah) ilmuan hebat yang selalu berdakwah," jelas Mamah Dedeh.

Mamah Dedeh melanjutkan ceritanya, pada saat Umar bin Khattab menjadi Khalifah, perempuan bernama Asy-Syifa' sangat cerdas dan dijadikan orang yang bertugas mengawasi masalah pasar di Madinah.

Ia menegaskan, artinya, perempuan punya hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki. Dalam Surah Ali 'Imran Ayat 195, dijelaskan Allah tidak menyia-nyiakan orang yang beramal, baik amal yang dilakukan laki-laki maupun perempuan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA