Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Tuesday, 25 Rajab 1442 / 09 March 2021

Studi Ungkap Empat Gejala Baru Indikator Covid-19

Selasa 23 Feb 2021 07:21 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Friska Yolandha

Sakit kepala (Ilustrasi). Peneliti menemukan empat gejala baru yang menjadi indikator Covid-19, yaitu sakit kepala, panas dingin, kehilangan nafsu makan dan nyeri tenggorokan.

Sakit kepala (Ilustrasi). Peneliti menemukan empat gejala baru yang menjadi indikator Covid-19, yaitu sakit kepala, panas dingin, kehilangan nafsu makan dan nyeri tenggorokan.

Foto: Flickr
Temuan indikator Covid-19 dihimpun dari 1 juta data.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada tiga gejala utama yang kini dapat menjadi indikator Covid-19, yaitu demam, batuk, dan kehilangan indera penciuman atau perasa. Studi terbaru menambah daftar panjang gejala yang mungkin menjadi indikator Covid-19.

Studi yang dilakukan oleh peneliti Imperial College London ini mengungkapkan ada empat gejala tambahan yang dapat menjadi indikator Covid-19. Keempat gejala tersebut berupa panas dingin, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, dan nyeri otot.

Temuan ini didasarkan pada data-data yang dihimpun dari satu juta lebih orang. Selama studi berlangsung, tes swab dan kuesioner dilakukan serta dianalisis dalam periode Juni 2020 dan Januari 2021.

Baca Juga

Tim peneliti lalu menemukan bahwa pasien yang melaporkan keempat gejala ini memiliki kemungkinan untuk mendapatkan hasil positif dalam tes Covid-19. Para pasien yang mengeluhkan gejala-gejala tersebut juga mengalami gejala klasik Covid-19.

Saat ini, tes Covid-19 seringkali hanya dilakukan ketika seseorang menunjukkan tiga gejala utama. Dengan temuan baru ini, peneliti berharap akan ada lebih banyak kasus Covid-19 yang terdeteksi dan tertangani sebelum menyebar lebih jauh.

"Studi ini menunjukkan ada banyak orang dengan Covid-19 yang tidak dites dan kemudian tidak melakukan isolasi mandiri, karena gejala mereka tidak sesuai dengan panduan kesehatan saat ini untuk mengidentifikasi orang yang terinfeksi," jelas Direktur Program REACT di Imperial Profesor Paul Elliot, seperti dilansir Cosmopolitan.

Tak hanya Profesor Elliot dan tim yang mendorong adanya perhatian lebih terhadap gejala-gejala Covid-19 lain. Sebanyak 140 dokter umum juga membuat surat bernada serupa yang diterbitkan di British Medical Journal. Mereka meminta agar peneliti ternama memasukkan gejala baru Covid-19 ke dalam daftar gejala resmi Covid-19.

Para dokter tersebut meminta tiga gejala ditambahkan ke dalam daftar resmi gejala Covid-19. Ketiga gejala tersebut adalah hidung berair, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan.

Saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan demam, batuk kering, dan rasa lelah sebagai gejala Covid-19 yang paling sering terjadi. Akan tetapi, WHO juga memberikan daftar gejala Covid-19 kurang namun tetap perlu diwaspadai oleh masyarakat. Sebagian gejala dalam daftar tersebut merupakan gejala yang juga disoroti oleh peneliti dari Imerial.

Sebagian gejala yang tergolong kurang umum menurut WHO adalah nyeri atau sakit, nyeri tenggorokan, diare, konjungtivitis, sakit kepala, kehilangan indera perasa atau penciuman, serta ruam pada kulit atau perubahan warna baik pada jari tangan maupun jari kaki.

Agar lebih aman, orang-orang yang mengalami gejala kurang umum dan gejala tidak resmi Covid-19 lain sebaiknya tetap melakukan isolasi mandiri. Dengan cara ini, risiko penularan Covid-19 kepada orang lain dapat dicegah. Selain itu, tubuh juga akan mendapatkan waktu lebih untuk bisa memulihkan diri.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA