Warga Tasikmalaya Diminta Terapkan Mitigasi Bencana

Rep: Bayu Adji P/ Red: Andri Saubani

Sejumlah warga terdampak pergerakan tanah di Desa Bojongsari, Kecamatan Gunungtanjung, Kabupaten Tasikmalaya, masih mengungsi akibat pergerakan tanah yang terjadi di wilayah itu. Rumah mereka mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah tersebut.
Sejumlah warga terdampak pergerakan tanah di Desa Bojongsari, Kecamatan Gunungtanjung, Kabupaten Tasikmalaya, masih mengungsi akibat pergerakan tanah yang terjadi di wilayah itu. Rumah mereka mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah tersebut. | Foto: Bayu Adji P

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya meminta warganya untuk waspada terhadap kejadian bencana, mengingat belakangan banyak terjadi bencana di Jawa Barat (Jabar). Warga Kota Tasikmalaya diminta melakukan mitigasi untuk mencegah terjadinya bencana.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tasikmalaya, Ivan Dicksan mengatakan, pihaknya akan melakukan edukasi kepada warga terkait mitigasi bencana. Dengan begitu, warga dapat mendeteksi hal-hal yang bisa berpotensi menimbulkan bencana.

"Kita juga akan mendorong perilaku yang bersahabat dengan alam, misalnya tidak buang sampah ke selokan, memperlakukan tanah kritis dengan menanam pohon agar tak terjadi longsor, serta memangkas pohon yang berpotensi tumbang. Jangan ditebang, karena kita juga butuh oksogen dari pohon," kata dia, Senin (22/2).

Ivan, yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya, menambahkan, pihaknya juga telah menyiapkan anggaran belanja tidak terduga (BTT). Anggaran itu dapat digunakan untuk penanganan jika terjadi bencana alam.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya, Ucu Anwar mengatakan, kejadian bencana yang berpotensi terjadi di daerahnya didominasi tanah longsor dan pohon tumbang. Menurut dia, di Kota Tasikmalaya tak memiliki wilayah yang berpotensi terjadi banjir.

"Kota tasik tak memiliki potensi banjir, karena kita diapit oleh dua sungai besar, Ciwulan dan Cotanduy. Jadi potensi (banjir) tak ada," kata dia.

Kendati demikian, terdapat beberapa wilayah kecamatan yang memiliki potensi muncul genangan air jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Beberapa wilayah itu di antaranya Kecamatan Tawang, Cipedes, Cihideung, dan Indihiang.

Menurut Ucu, terjadinya genangan air di Kota Tasikmalaya terjadi lantaran banyaknya alih fungsi lahan. Akibatnya, semakin lama daerah resapan air semakin berkurang. Selain itu, ia menambahkan, telah tejadi sedimentasi yang tinggi di beberapa sungai yang melintasi Kota Tasikmalaya.

"Kita punya kearifan lokal menanam padi di sawah. Itu harus dilestarikan agar potensi genangan air berkurang. Daerah resapan air juga mesti dijaga," kata dia.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


Tapak Suci - HW UMS Galang Donasi Korban Bencana

Belum Dua Bulan, Terjadi 76 Bencana di Tasikmalaya

DPR Bantu Korban Bencana Pergerakan Tanah Sukabumi

Sucofindo Peduli Sesama bagi Korban Banjir

Warga Terdampak Pergerakan Tanah Menanti Kepastian

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

jabar@republika.co.id

Ikuti

× Image