Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

FAA Lacak Semua Pesawat Boeing 737 MAX Melalui Data Satelit

Ahad 21 Feb 2021 15:22 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nidia Zuraya

 Pemandangan udara dari pesawat Boeing 737 Max 8 yang duduk diparkir di Boeing Field di Seattle, Washington, AS, 21 Juli 2019 (diterbitkan ulang 18 November 2020). Federal Aviation Administration (FAA) AS akan melacak semua pesawat Boeing 737 MAX menggunakan data satelit.

Pemandangan udara dari pesawat Boeing 737 Max 8 yang duduk diparkir di Boeing Field di Seattle, Washington, AS, 21 Juli 2019 (diterbitkan ulang 18 November 2020). Federal Aviation Administration (FAA) AS akan melacak semua pesawat Boeing 737 MAX menggunakan data satelit.

Foto: EPA-EFE/GARY HE EDITORIAL USE ONLY
Pemantauan FAA terhadap armada Boeing 737 MAX dimulai pada 29 Januari 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Federal Aviation Administration Amerika Serikat (FAA) mengatakan melacak semua pesawat Boeing 737 MAX menggunakan data satelit. Hal itu berdasarkan kesepakatan dengan perusahaan pengawas lalu lintas udara Aireon LLC. 

Aireon dan L3Harris Technologies mengumumkan pada November kemitraan baru dengan FAA yang memberikan badan akses luas ke data pengawasan lalu lintas udara real time Aireon Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B). FAA menyatakan, Aireon menyediakan agen data penerbangan ADS-B bagi semua pesawat Boeing 737 MAX. 

"Sistem Aireon akan menandai penyimpangan dari parameter tertentu selama semua fase penerbangan dan memperingatkan divisi keselamatan dan penerbangan FAA. Insinyur keselamatan dan inspektur akan menggunakan pemberitahuan awal guna menganalisis lebih lanjut insiden tersebut," ujar FAA seperti dilansir Reuters pada Ahad (21/2).

Baca Juga

Hanya saja Boeing tidak segera berkomentar. Sementara pemantauan FAA terhadap armada Boeing 737 MAX dimulai pada 29 Januari. 

Chief Technology Officer Aireon Vinny Capezzuto mengatakan hal itu, selama acara web 12 Februari yang digelar oleh Aviation Week. "Anda benar-benar dapat memantaunya pada tampilan kesadaran situasional dan memiliki deteksi peristiwa yang terkait dengannya," ujar dia. 

Capezzuto menambahkan, FAA dapat mencari kode darurat dan melacak data lainnya. "Sistem mengirim email kepada FAA, ketika peristiwa terdeteksi. Setiap hari Anda mendapatkan kartu laporan tentang data dari penerbangan sejak dua hari sebelumnya," tuturnya. 

FAA menggunakan data Aireon dalam keputusannya, guna menghentikan seluruh armada 737 MAX pada Maret 2019. Beberapa setelah kecelakaan fatal kedua 737 MAX dalam lima bulan. 

FAA mencabut landasan 20 bukan 737 MAX pada November. Hal itu setelah Boeing melakukan serangkaian peningkatan keamanan perangkat lunak dan perubahan pelatihan. FAA mengontrol 17 persen wilayah udara dunia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA