Monday, 16 Zulhijjah 1442 / 26 July 2021

Monday, 16 Zulhijjah 1442 / 26 July 2021

Diangkatnya Menteri Urusan Kesepian Jepang dan Tiga Data

Ahad 21 Feb 2021 10:14 WIB

Red: Elba Damhuri

Denny JA, Konsultan Politik

Denny JA, Konsultan Politik

Foto: denny ja
Jepang pun merasa perlu mengangkat seorang menteri dengan tugas tak biasa.

Oleh : Denny JA, Akademisi/Konsultan Politik/Kolomnis

REPUBLIKA.CO.ID --- Inilah ironi peradaban modern. Di tengah kelimpahan ekonomi. Sambil mengendalikan teknologi sangat canggih.  Hati manusia di era itu banyak yang kesepian. Lalu bunuh diri.

Jepang pun merasa perlu mengangkat seorang menteri dengan tugas tak biasa. Mencari solusi penduduknya yang kesepian. Mencari jalan keluar mengurangi tingginya angka bunuh diri.

Baca Juga

Diberitakan, Perdana Menteri Yoshihide Suga baru saja menunjuk Tetsushi Sakamoto. Isolasi sosial era pandemik menambah jumlah bunuh diri di Jepang, yang sebelumnya sudah tinggi. (1)

Ujar Perdana Menteri, “Wanita lebih menderita akibat isolasi sosial. Jumlah yang bunuh diri menaik signifikan. Saya harap anda mengidentifikasi apa yang sebenarnya terjadi. Lalu mencari kebijakan terukur dan komprehensif untuk mengatasinya.”

Sakamoto menerima tugas tak biasa ini. Kepada pers Ia menyatakan sedang mencari cara dan program untuk mengurangi kesepian dan perasaan terisolasi. Lalu kembali membuat individu di masyarakat saling terhubung dan berbahagia.

-000-

Membaca berita itu, saya teringat tiga data. Cuplikan data itu disajikan kembali, yang diambil dari buku saya terbit tahun lalu: The Spirituality of Happiness, Spiritualitas Baru Abad 21 Narasi Ilmu Pengetahuan. (2)

DATA PERTAMA soal kemakmuran. Global Burden of Diase Study 2010 melaporkan. Mereka yang meninggal karena kelebihan kalori, karena penyakit yang berhubungan dengan obesitas, kini tiga kali lebih banyak ketimbang mereka yang meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan kelaparan. (3)

Untuk pertama kalinya dalam peradaban, jumlah yang mati karena kelebihan makan lebih banyak tiga kali lipat dibandingkan karena kurang makanan. 

Sejak munculnya homo sapiens dua ratus ribu tahun lalu, sejarah bergerak karena perebutan sumber daya makanan. Kini secara umum peradaban sudah kelebihan makanan. Mati kareja EAT MORE jauh lebih banyak dibanding mati karena EAT LESS.

Kita memasuki apa yang disebut Inglehart sebagai zaman post-materialism. Ini zaman yang tak lagi disibukkan dengan kebutuhan pokok. Tapi ia sudah melampaui itu. Kebutuhan utama kita lebih pada aktualisasi diri,  dan hidup yang lebih berkualitas. (4)

Tentu tetap ada dan tetap banyak penduduk dunia yang masih berjuang untuk memenuhi basic need seperti makanan, rumah dan rasa aman. Tapi peradaban sudah bergerak melahirkan lebih banyak dan lebih banyak lagu manusia yang kebutuhannya melampaui dunia materi.

-000-

DATA KEDUA yang saya pelajari adalah soal kesepian. Ini data dari WHO. Jumlah yang meninggal karena bunuh diri kini lebih banyak dibandingkan jumlah yang meninggal karena konflik, perang dan bencana alam digabung menjadi satu (5)

Setiap tahun sekitar 800 ribu hingga 1 juta manusia di seluruh dunia mati bunuh diri. Setiap empat detik ada yang bunuh diri di salah satu wilayah bumi.

Ini ironi peradaban post-materialism. Ketika kemakmuran materi melimpah semakin banyak yang bunuh diri. Apapun penyebab, pastilah yang bunuh diri merasa hidup yang tak lagi berharga untuk dijalani. Pastilah ia lama tenggelam dalam rasa putus asa dan depresi.

Data itu semakin menguatkan persepsi kita tentang manusia. Kelimpahan materi belaka tidak membuat peradaban itu nyaman bagi manusia di dalamnya.

-000-

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA