Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Tantangan Lacak Mutasi Virus Covid-19 di Indonesia

Kamis 18 Feb 2021 03:50 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Virus corona dalam tampilan mikroskopik. (ilustrasi)

Virus corona dalam tampilan mikroskopik. (ilustrasi)

Foto: EPA/CDC
Mutasi virus perlu dilacak untuk mengetahui tingkat keparahan dan efektiftas vaksin.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mutasi virus SARS-CoV-2 yang berlangsung cepat menjadi salah satu tantangan pengendalian penyebaran dan pencegahan penularan Covid-19. Mutasi merupakan upaya virus bertahan hidup terhadap inang dan lingkungannya.

SARS-CoV-2 tergolong virus dengan materi genetik RNA. Umumnya virus pemilik materi ini mempunyai kecepatan mutasi tinggi. Terutama dibanding virus dengan materi genetik DNA seperti bakteri dan protozoa.

Dengan tingkat penularan dan temuan kasus Covid-19 semakin tinggi, maka kemungkinan virus SARS-CoV-2 bermutasi juga sangat besar.

Mutasi pada virus dapat menyebabkan berbagai kemungkinan. Misalnya membuat virus lebih mudah menular atau menginfeksi sel, lebih tinggi virulensinya, atau bahkan lebih mematikan.

Mutasi merupakan proses acak. Sehingga perlu pengurutan genom menyeluruh (whole genome sequencing) pada virus untuk melacak bagian yang mengalami mutasi atau perubahan materi genetik.

Virus setidaknya memiliki kemampuan berkembang dan beradaptasi berdasarkan lingkungannya dengan rentang akumulasi satu sampai dua mutasi per bulan.

Mutasi virus SARS-CoV-2 saat ini telah menghasilkan sejumlah varian baru di beberapa negara. Mulai dari D614G dari China, B 1.1.7 atau VOC202012/01 dari Inggris, B 1.351 atau 501Y.V2 dari Afrika Selatan, dan B 1.1.28.1 atau P.1 dari Brasil.

Varian baru B 1.1.7 lebih menular 70 persen dibanding varian sebelumnya. Sedangkan varian D614G dari China ternyata 10 kali lebih menular. Sejauh ini belum didapati ia lebih mematikan dibanding varian terdahulu.

Tiga varian baru dari Inggris, Afrika Selatan, dan Brasil sejauh ini belum dilaporkan ditemukan di Indonesia. Namun, varian B 1.1.7 sudah dilaporkan di beberapa negara Asia dan Australia.

Sebab itu dibutuhkan surveilans genom yang lebih terintegrasi dan masif di Indonesia untuk melacak keberadaan varian-varian baru tersebut di Tanah Air.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA