Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Industri Otomotif Terancam Jika Penjualan tak Kembali Normal

Rabu 17 Feb 2021 18:22 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolandha

Pekerja melakukan proses perakitan komponen mesin (ilustrasi). Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebut operasi industri otomotif bisa terhenti jika penjualan dan produksi tidak kembali normal.

Pekerja melakukan proses perakitan komponen mesin (ilustrasi). Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebut operasi industri otomotif bisa terhenti jika penjualan dan produksi tidak kembali normal.

Foto: Republika/Adhi Wicaksono
Pabrik mobil dan komponennya bisa berhenti beroperasi dan berdampak pada karyawan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebut operasi industri otomotif bisa terhenti jika penjualan dan produksi tidak kembali normal. Gaikindo mencatat penjualan mobil di dalam negeri mengalami penurunan akibat pandemi Covid-19. 

Ketua I Gaikindo Jongkie D Sugiarto mengatakan jika ini terjadi maka akan berdampak pada nasib pekerja pada sektor industri otomotif.

“Jika penjualan dan produksi tidak kembali normal maka pabrik mobil dan komponen-komponennya bisa melakukan penghentian operasinya dan bisa berakibat terhadap karyawan-karyawannya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (17/2).

Baca Juga

Oleh sebab itu, pihaknya mengapresiasi rencana pemerintah memberikan relaksasi insentif keringanan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) kendaraan. Dia berharap dengan adanya insentif ini bisa membuat penjualan dan produksi otomotif kembali normal.

“Gaikindo sangat menyambut baik kebijakan pemerintah ini dan berharap agar penjualan dan produksi otomotif bisa cepat kembali normal,” kata Jongkie.

Menurutnya Gaikindo telah merevisi target penjualan mobil pada 2020. Pada proyeksi awal sebanyak 1.110.000 unit, lalu di revisi menjadi 600 ribu unit, lalu revisi lagi ke 525 ribu unit dan total penjualan sepanjang 2020 sebanyak 532 ribu unit.

"Perkiraan kami, Maret, April, Mei ini (2021) angka bisa meningkat dari 50 ribu per bulan mungkin bisa sampai 60 ribu sampai 70 ribu unit. Mungkin ada peningkatan 40 persen karena itu memang segmen terbesar mobil-mobil yang akan diberikan stimulus itu," ucapnya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA