Selasa 16 Feb 2021 14:40 WIB

Korsel Tangkap Pria Korut di Zona Demiliterisasi

Otoritas Korsel masih menyelidiki apakah pria Korut itu membelot atau bukan.

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Teguh Firmansyah
Perbatasan Korut dan Korsel.
Foto: AP
Perbatasan Korut dan Korsel.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Militer Korea Selatan (Korsel) telah menangkap seorang pria Korea Utara (Korut) yang melintasi perbatasan. Pihak berwenang Korsel sedang menyelidiki apakah pria tersebut mencoba untuk membelot.

Pria itu ditangkap sekitar pukul 4.20 pagi waktu setempat di dekat pos pemeriksaan di ujung timur Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan Korsel dan Korut. Pria itu ditahan setelah pencarian selama tiga jam.

Baca Juga

"Dia diduga orang Korut dan kami sedang melakukan penyelidikan secara detail, termasuk apakah dia ingin membelot," ujar pernyataan Kepala Staf Gabungan (JCS).

Tidak ada pergerakan yang tak biasa di seberang perbatasan. Jumlah pembelot Korut yang menyeberang ke Korsel turun ke level terendah sejak pandemi virus Corona. Pengetatan perbatasan dan penguncian di wilayah Korut membuat aktivitas penyeberangan di perbatasan sangat jarang.

Menteri Unifikasi Lee In-young mengatakan, sekitar 200 warga Korut menetap di Korsel pada tahun lalu. Jumlah tersebut menurun sekitar 80 persen dari 2019. Kasus terakhir yang diketahui publik adalah ketika seorang pria Korut membelot ke Korsel melalui DMZ timur.

Hubungan lintas batas memburuk setelah pembicaraan denuklirisasi antara Pyongyang dan Washington terhenti pada 2019. Perselisihan terjadi pada September setelah pasukan Korut menembak mati seorang pejabat perikanan Korsel yang hilang di laut. Hal ini memicu keributan publik dan politik di Korsel.

Pada Juli, Pemimpin Korut Kim Jong-un menyatakan keadaan darurat dan menutup perbatasan setelah seseorang dengan gejala Covid-19 secara ilegal melintasi perbatasan dari Utara ke Selatan. Sejauh ini Korut belum mengkonfirmasi kasus virus Corona. Namun pejabat Seoul meragukan hal tersebut karena Korut memiliki aktivitas perdagangan dengan Cina.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement