Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Kemiskinan di Desa Melonjak, Ekonom: Dampak Deurbanisasi

Selasa 16 Feb 2021 05:29 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha

Petugas mengecek dokumen persyaratan untuk mendapatkan Bantuan Sosial Tunai di SDN Ragunan 08 Pagi, Jakarta, Rabu (3/2). Ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Rusli Abdullah menuturkan, melonjaknya angka kemiskinan di desa merupakan dampak dari deurbanisasi yang terjadi selama pandemi Covid-19.

Petugas mengecek dokumen persyaratan untuk mendapatkan Bantuan Sosial Tunai di SDN Ragunan 08 Pagi, Jakarta, Rabu (3/2). Ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Rusli Abdullah menuturkan, melonjaknya angka kemiskinan di desa merupakan dampak dari deurbanisasi yang terjadi selama pandemi Covid-19.

Foto: Republika/Thoudy Badai
Pemerintah harus melanjutkan program perlindungan sosial yang telah dilakukan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Rusli Abdullah menuturkan, melonjaknya angka kemiskinan di desa merupakan dampak dari deurbanisasi yang terjadi selama pandemi Covid-19. Sementara warga kota kembali ke desa, lapangan pekerjaan yang tersedia di perdesaan tidak mampu menampung.

"Lapangan kerja di desa tidak mampu menampung meskipun sektor pertanian positif," kata Rusli kepada Republika.co.id, Senin (15/2).

Baca Juga

Seperti diketahui, sektor pertanian sepanjang 2020 berhasil menjaga pertumbuhan positif. Kegiatan pertanian yang berbasis di desa menjadikan masyarakat desa tetap dapat bekerja dan menghasilkan pendapat.

Namun, Rusli mengatakan, dalam sebuah sektor tentunya tidak seluruh sub sektor mengalami situasi yang aman. Seperti misalnya peternakan yang mengalami pertumbuhan minus lantaran harga produk peternakan seperti unggas yang anjlok akibat over produksi.

"Tidak semua orang juga mau turun menjadi petani. Mungkin ada juga yang dia pulang ke desa dan menunggu bantuan sosial dari pemerintah saja," katanya menambahkan.

Rusli mengatakan, pemerintah harus melanjutkan berbagai program perlindungan sosial yang sudah dilakukan tahun 2020. Namun, tahun ini harus lebih menekankan kegiatan padat karya di perdesaan yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

Ia mencontohkan seperti pembangunan infrastruktur di desa wisata sebagai persiapan adanya lonjakan kunjungan wisatawan setelah Covid-19 mulai mereda. Menurutnya, penyiapan sektor pariwisata harus dimulai saat ini sehingga nantinya siap menyambut masa pemulihan.

"Di situlah akan serap tenaga kerja," kata dia. 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA