Senin 15 Feb 2021 20:12 WIB

Membaca Dampak Luar Biasa Covid dalam Statistik Kemiskinan

Orang miskin di Indonesia bertambah 1,13 juta orang dalam kurun waktu 6 bulan.

Seorang warga memetik kangkung di Sungai Jangkuk, di permukiman padat penduduk di Ampenan, Mataram, NTB, Senin (25/1). Badan Pusat Statistik hari ini mengumumkan angka-angka terbaru kemiskinan di Indonesia yang menjadi cerminan dampak luar biasa pandemi Covid-19. (ilustrasi)
Foto: ANTARA/Ahmad Subaidi
Seorang warga memetik kangkung di Sungai Jangkuk, di permukiman padat penduduk di Ampenan, Mataram, NTB, Senin (25/1). Badan Pusat Statistik hari ini mengumumkan angka-angka terbaru kemiskinan di Indonesia yang menjadi cerminan dampak luar biasa pandemi Covid-19. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Adinda Pryanka, Amri Amrullah

Pandemi Covid-19 berkontribusi terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2020 mencapai 27,55 juta orang, atau naik 2,76 juta orang dibandingkan September 2019.

Baca Juga

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, terdapat 1,13 juta orang tambahan yang masuk ke kategori miskin dalam kurun waktu 6 bulan. Penduduk miskin pada September 2020 setara dengan 10,19 persen terhadap jumlah penduduk Indonesia, di mana pada Maret 2020 angkanya pada Maret 2020 sebesar 9,78 persen.

"Dampak Covid-19 luar biasa, menurunkan pendapatan dari seluruh lapisan," katanya dalam konferensi pers secara virtual pada Senin (15/2).

Pandemi juga telah memberikan dampak ke tingkat kemiskinan melalui lapangan kerja. BPS menyebutkan, sebanyak 29,12 juta penduduk atau 14,28 persen dari jumlah penduduk usia kerja terkena dampaknya.

Dari total tersebut, 2,56 juta penduduk menjadi pengangguran, sementara 1,77 juta penduduk sementara tidak bekerja. Selain itu, 24,03 juta penduduk bekerja dengan pengurangan jam kerja.

"Ini berpengaruh pada pendapatan," kata Suhariyanto.

Persentase pekerja setengah penganggur juga naik. Pada Agustus 2020, persentasenya mencapai 10,19 persen atau naik 3,77 persen dibandingkan Agustus 2019, Suhariyanto mengatakan, kenaikan ini mengindikasikan penurunan pendapatan masyarakat.

BPS juga mencatat, garis kemiskinan per September 2020 mencapai Rp 458.947 per kapita per bulan. Angka ini naik tipis, 0,94 persen, dibandingkan realisasi pada Maret 2020 yang sebesar Rp 454.652 per kapita per bulan.

Dari komposisinya, komoditi makanan berperan lebih signifikan terhadap garis kemiskinan dibandingkan komoditi non makanan. Kontribusi makanan mencapai 73,87 persen, sementara sisanya disumbangkan oleh bukan makanan.

Beberapa komoditas makanan yang memberikan pengaruh pada garis kemiskinan tidak banyak berubah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Beras menjadi penyumbang terbesar, yakni 16,58 persen di perkotaan dan 21,89 persen di pedesaan.

"Dengan melihat angka ini, harus berikan perhatian ekstra agar komoditas pangan, seperti beras, tidak mengalami fluktuasi tinggi," kata Suhariyanto.

Sementara itu, rokok kretek filter berada di posisi kedua. Kontribusinya 13,50 persen terhadap garis kemiskinan di perkotaan dan 11,85 persen di pedesaan. Persentase ini naik dibandingkan September 2019 yang masing-masing berada pada level 11,17 persen dan 10,37 persen.

Dari komoditi bukan makanan, perumahan menjadi penyumbang terbesar terhadap garis kemiskinan. Sumbangannya di perkotaan dan pedesaan masing-masing mencapai 8,32 persen dan 7,72 persen.

BPS juga menyebutkan, per rumah tangga miskin, garis kemiskinan nasional mencapai Rp 2,2 juta. Garis kemiskinan di DKI Jakarta lebih tinggi dari rata-rata nasional, yakni hingga Rp 3,8 juta per rumah tangga miskin.

Disparitas kemiskinan perkotaan dan pedesaan juga masih tinggi. Sementara tingkat kemiskinan di kota sebesar 7,88 persen, level di pedesaan sudah mencapai double digit yakni 13,20 persen.

Tetapi, peningkatan kemiskinan di perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan pedesaan. Laju pertumbuhan kemiskinan di kota pada September 2020 dibandingkan September 2019 mencapai 1,32 persen poin, sedangkan di pedesaan hanya 0,60 persen poin.

Di sisi lain, indeks kedalaman kemiskinan di pedesaan juga masih lebih tinggi, 2,39, dibandingkan di perkotaan yang berada pada level 1,26 persen. Tingkat indeks di pedesaan bahkan lebih tinggi dibandingkan nasional yang sebesar 1,75.

Indeks kedalaman kemiskinan mengindikasikan jarak rata-rata pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi, berarti jaraknya semakin jauh yang berarti upaya untuk mengangkat masyarakat miskin untuk menjadi tidak miskin akan semakin berat.

Dari sisi indeks keparahan, kondisi kemiskinan di pedesaan juga lebih parah dengan berada pada level 0,68. Sedangkan, indeks keparahan di kota dan nasional atau akumulasi perkotaan dengan pedesaan masing-masing sebesar 0,31 dan 0,47.

Indeks keparahan kemiskinan mengindikasikan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi pula ketimpangannya yang berarti, upaya pemerintah untuk mengurangi masyarakat miskin semakin berat.

"Ke depan, perlu perhatian khusus terhadap masyarakat desa agar mereka bisa keluar dari kemiskinan," ujar Suhariyanto.

Tingkat rasio gini nasional pada September 2020 juga naik menjadi 0,385. Setahun sebelumnya, angka rasio gini di Indonesia adalah 0,380.

Sebagai informasi, nilai rasio gini berada pada rentang nol hingga satu. Semakin tinggi nilainya, atau mendekati satu, berarti semakin tinggi tingkat ketimpangan.

photo
Lima cara mengurangi stres selama pandemi. - (Republika.co.id)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement