Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Saturday, 3 Syawwal 1442 / 15 May 2021

Valentine, Hari Kasih Sayang Kaum Kapitalis

Senin 15 Feb 2021 09:45 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Juru masak membuat kue cokelat untuk kado hari kasih sayang atau Valentine day di Galeri Dapur Cokelat, Malang, Jawa Timur, Sabtu (13/2/2021). Pengusaha makanan olahan cokelat setempat mengaku momentum hari kasih sayang membuat penjualannya meningkat dari 100 potong menjadi 120 potong per hari atau meningkat 20 persen, meski sebelumnya sempat mengalami penurunan akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.

Juru masak membuat kue cokelat untuk kado hari kasih sayang atau Valentine day di Galeri Dapur Cokelat, Malang, Jawa Timur, Sabtu (13/2/2021). Pengusaha makanan olahan cokelat setempat mengaku momentum hari kasih sayang membuat penjualannya meningkat dari 100 potong menjadi 120 potong per hari atau meningkat 20 persen, meski sebelumnya sempat mengalami penurunan akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.

Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto
Hari Valentine: Dalih Kaum Kapitalis Atas Nama Kasih Sayang

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Jaya Suprana, Filsuf, Budayawan, Penggagas Rekor MURI, Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.  

Selama sedasawarsa pada tahun-70an abad XX saya sempat bermukim untuk belajar dan mengajar di Jerman. Selama tinggal di Jerman sebagai sebuah negara dengan mayoritas warga Nasrani, saya tidak pernah merasakan  hiruk-pikuk perayaan Hari Valentine. Sama halnya dengan perayaan Hari Natal di Jerman tidak seheboh Hari Natal di Amerika Serikat.

Sebelum hari Natal, lambat namun pasti kota-kota besar di Jerman makin sepi akibat mayoritas warga mudik ke desa-desa. Sementara jalan raya kota-kota besar kosong melompong akibat para warga di kota merayakan Hari Natal yang jatuh padam musim salju dengan berkumpul dengan keluarga di rumah masing-masing.

Yang paling meriah merayakan Natal di Jerman adalah lonceng-lonceng gereja saling bersaing memekakkan telinga mereka yang tinggal di dekat gereja.

Suasana malam kudus, sunyi senyap memang benar-benar terasa di Jerman yang memang terletak tidak terlalu jauh dari desa Oberndorf di pinggiran Salzburg, Austria di mana lagu  Stille Nacht , Heilige Nacht perdana dipergelar oleh Franz Xaver Gruber dan Joseph Moor di kapela mungil Santo Nikolaus. 

AMERIKA SERIKAT

Memang beda dengan masyarakat Amerika Serikat yang ekstrovert, masyarakat Jerman introvert merayakan Natal. Maka saya tidak merasakan kehebohan perayaan Hari Valentine di Jerman seperti perayaan Valentine’s Day di Amerika Serikat.

Para pengusaha Amerika Serikat maksimal memanfaatkan Hari Valentine untuk menjual produk mulai dari bunga sampai permen, cokelat dan minuman keras.

Kaum mahakayaraya sibuk bersaing membeli lalu mempersembahkan berlian minimal sepuluh karat sampai pesawat jet pribadi sebagai ungkapan kasih-sayang kepada kekasih.

Hadiah Valentine juga saling diberikan oleh para anak dan orangtua masing-masing sebagai ungkapan kasih-sayang. Pendek kata Valentine’s Day habis-habisan dieksploatir demi kepentingan komersial mengejar profit sebesar mungkin.

Kebutuhan atas bunga di Amerika Serikat pada masa Hari Valentine sedemikian meningkat sehingga bunga yang ditanam di lahan dalam negeri tidak lagi mencukupi maka terpaksa impor bunga dari luar negeri. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA