Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Saran Analis untuk Emiten IT yang Ingin IPO Saat Pandemi

Senin 15 Feb 2021 01:19 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya

Initial public offering / penawaran saham perdana

Initial public offering / penawaran saham perdana

Foto: Republika.co.id
Pandemi Covid-19 masih harus terus diwaspadai karena menyebabkan rendahnya daya beli.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Emiten sektor teknologi mencoba jajal bursa saham di tengah kondisi pandemi Covid-19. Analis Binartha Sekuritas, Nafan Aji menyampaikan perkembangan IPTEK kedepan masih prospektif sehingga perusahaan teknologi dapat mengambil kesempatan.

"Jika perusahaan teknologi mampu meningkatkan kemajuan IPTEK dan memanfaatkan potensi pasar maka bisa memaksimalkan kinerja," kata Nafan pada Republika.co.id, Ahad (14/2).

Baca Juga

Meski demikian, tambahnya, pasar harus terus update terhadap perkembangan teknologi. Jika tidak, maka emiten berbasis teknologi tidak akan berkembang. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat emiten teknologi melantai di bursa di masa saat ini.

Pandemi Covid-19 masih harus terus diwaspadai karena menyebabkan rendahnya daya beli. Selain itu juga persaingan dan kompetisi yang terjadi di industri. Menurutnya, masih perlu waktu untuk emiten sektor teknologi berperan signifikan di pergerakan saham IHSG.

"IHGS lebih dipengaruhi oleh pergerakan indeks finance, konsumsi maupun infrastruktur," katanya.

Menurut Nafan, sektor keuangan, konsumer, dan infrastruktur bisa mendapat kesempatan lebih besar jika harus IPO di masa saat ini. Untuk sektor teknologi di Indonesia, perusahaan juga dituntut perlu meningkatkan transparansi dari sisi keuangan. Predikat perusahaan juga menentukan prestise.

Karena investor harus melihat nilainya dari sisi kinerja pendapatan, laba bersih maupun beban utang. Jika penetapan harga IPO sudah dilakukan, maka valuasi perlu diketahui, apakah overvalue atau undervalue. Itu bisa menentukan adanya keberhasilan dalam memenuhi oversubscribed atau tidak.

"Nanti dilihat harga IPO terlebih dahulu, baru bisa melihat valuasinya, syukur-syukur undervalue sehingga berpotensi oversubscribed," katanya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA