Sabtu 13 Feb 2021 09:06 WIB

Wall Street Menguat, Nasdaq Ditutup pada Rekor Tertinggi

Investor membeli saham energi dan keuangan untuk antisipasi bantuan fiskal baru.

Wall Street
Foto: AP Photo/Mark Lennihan
Wall Street

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Wall Street menguat pada akhir perdagangan Jumat (12/2) dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatat rekor penutupan tertinggi. Pada akhir pekan ini, investor membeli saham-saham energi, keuangan dan material serta menjual saham-saham teknologi besar untuk mengantisipasi bantuan fiskal baru Washington guna membantu pemulihan ekonomi AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 27,70 poin atau 0,09 persen, menjadi menetap di 31.458,40 poin. Indeks S&P 500 menguat 18,45 poin atau 0,47 persen, menjadi berakhir di 3.934,83 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup 69,70 poin atau 0,50 persen lebih tinggi, menjadi 14.095,47 poin. Ketika indeks acuan juga mencatat kenaikan mingguan.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor energi terdongkrak 1,4 persen, melampaui kelompok lainnya. Sedangkan sektor utilitas dan real estat mencatat kerugian.

Indeks-indeks utama diperdagangkan dalam kisaran ketat selama seminggu, di mana investor keluar dari saham berorientasi pertumbuhan yang telah mendominasi reli hampir sepanjang tahun dan beralih membeli saham-saham siklikal dan under-priced. Sektor energi, keuangan dan material S&P menguat di tengah ekspektasi mereka akan mendapat manfaat dari ekonomi yang dibuka kembali, sementara kelas berat Apple Inc, Tesla Inc dan Microsoft Corp lebih rendah di sebagian besar sesi. Ketiganya ditutup lebih tinggi dalam lonjakan pasar akhir perdagangan.

"Saham-saham undervalue dan siklikal berkinerja baik dalam tingkat bunga yang meningkat, lingkungan pertumbuhan yang lebih tinggi, di mana ekonomi AS berada pada titik puncaknya," kata Thomas Hayes, ketua dan anggota pengelola hedge fund Great Hill Capital LLC di New York.

Indeks Volatilitas CBOE, yang disebut sebagai pengukur ketakutan Wall Street, ditutup di bawah 20 untuk pertama kalinya sejak Februari 2020.

Penurunan tajam dalam kasus baru Covid-19 dan rawat inap dalam beberapa pekan terakhir telah membantu mendorong pasar ke level tertinggi baru, meskipun kemunduran jangka pendek dapat terjadi dari varian virus corona baru dan potensi hambatan dalam distribusi vaksin.

Data terbaru menunjukkan sentimen konsumen AS secara tak terduga turun pada awal Februari ketika rumah tangga masih mengkhawatirkan perekonomian meskipun ada ekspektasi untuk stimulus tambahan.

Sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan ekonomi AS diperkirakan akan mencapai level sebelum Covid-19 dalam setahun ketika RUU fiskal 1,9 triliun dolar AS yang diusulkan membantu meningkatkan aktivitas ekonomi, tetapi lapangan kerja kemungkinan akan membutuhkan lebih dari satu tahun untuk pulih sepenuhnya.

Presiden AS Joe Biden meminta bantuan kelompok bipartisan pejabat lokal untuk mendukung rencana bantuan virus corona senilai 1,9 triliun dolar AS guna membantu jutaan pekerja yang menganggur dan membuka kembali sekolah.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement