Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Rumah Orang China Digedor Kelompok Tanjidor

Sabtu 13 Feb 2021 06:06 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

 Tanjidor

Tanjidor

Foto: Republika/Raisan Al Farisi
Saat Imlek kelompok tanjidor mengamen ke rumah-rumah orang China untuk dapat angpao.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Karta Raharja Ucu, Jurnalis Republika (@kartaraharjaucu)

"Lela... Mandra... Doel..Doel.. Adek lu digigit terompet," teriak Babe Sabeni dari dalam rumahnya. Doel dan Mandra yang sedang betulin Oplet dan Maknyak yang sedang menjaga warungnya awalnya mengira Babe Sabeni bercanda, hingga teriakan Atun dari dalam rumah membuat ketiganya sadar jika kejadian itu benar jika Atun "dimakan" terompet alias tanjidor.

Adegan itu adalah cuplikan dari salah satu episode Si Doel Anak Sekolahan. Dalam salah satu episode sinetron berlatar belakang budaya Betawi tersebut, Atun, adik Si Doel kejepit tanjidor usai menjahili Babe Sabeni.

Tanjidor dikenal luas sebagai alat musik yang memiliki akar sejarah kuat dengan kebudayaan Betawi. Nyatanya, tanjidor merupakan adaptasi dari budaya Eropa dan Tionghoa. Kata tanjidor berasal dari kata Portugis tangedor, yang berarti alat-alat musik berdawai. Saat Imlek tiba, para pemain tanjidor "menggedor" alias mengamen ke rumah-rumah orang-orang Tionghoa untuk mendapatkan hepeng.

Awalnya, menurut sejarawan Mona Lohanda, tanjidor dimainkan para budak untuk tuan-tuannya saat acara jamuan makan malam atau pesta. Termasuk untuk menghibur di wilayah perkebunan dan rumah-rumah gedong. Namun, setelah aturan tentang budak dihapuskan pada abad ke-19, para budak pemain tanjidor membentuk kelompok sendiri dan bermain keliling perkampungan, termasuk ketika Hari Imlek.

Sufwandi Mangkudilaga dalam "Fungsi Tanjidor Bagi Masyarakat Betawi" menjelaskan, Tanjidor yang berkembang di lingkungan Tionghoa dan Eropa ini ikut ambil bagian menjadi pengiring kemeriahan Imlek di kampung-kampung. Cerita serupa dituliskan sejarawan Alwi Shahab dalam buku Robinhood Betawi. Pria keturunan Arab ini merawikan, orkes tradisional tersebut dibentuk dalam lima hingga delapan orang.

Kelompok itu membawa alat-alat musik yakni tanjidor (tambur besar), terompet, klarinet, seruling dan trombone. Lagu-lagu yang dibawakan, kebanyakan mars warisan Belanda.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA