Jumat 12 Feb 2021 20:45 WIB

PBB: Dua Juta Bayi di Yaman Terancam Kekurangan Gizi

PBB mendesak pihak-pihak bertikai di Yaman menghentikan pertempuran.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah
 Bayi kembar siam laki-laki berbaring di dalam inkubator di unit perawatan intensif neonatal rumah sakit Al-Sabaeen, di Sana
Foto: EPA-EFE/YAHYA ARHAB
Bayi kembar siam laki-laki berbaring di dalam inkubator di unit perawatan intensif neonatal rumah sakit Al-Sabaeen, di Sana

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- PBB melaporkan lebih dari dua juta balita di Yaman terancam menderita kekurangan gizi pada 2021. Ia mendesak para pihak terkait menghentikan konflik di negara tersebut.

Laporan PBB memperingatkan, hampir satu dari enam anak di Yaman atau sekitar 400 ribu dari 2,3 juta anak, berisiko meninggal akibat kekurangan gizi akut tahun ini. Sekitar 1,2 juta wanita hamil atau menyusui di Yaman juga diproyeksikan mengalami kekurangan gizi parah tahun ini.

Laporan PBB menyebut kekurangan dana telah menghambat program kemanusiaan di Yaman. Hal itu karena negara-negara donor gagal memenuhi komitmen mereka.  "Angka-angka ini adalah seruan lain untuk bantuan dari Yaman, di mana setiap anak yang kekurangan gizi juga berarti keluarga yang berjuang untuk bertahan hidup," kata Direktur Eksekutif  Program Pangan Dunia (FAO) David Beasley pada Jumat (12/2).

Laporan terkait ancaman gizi di Yaman disusun FAO bersama Organisasi Pangan dan Pertanian, UNICEF serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

“Krisis di Yaman adalah campuran beracun dari konflik, keruntuhan ekonomi dan kekurangan dana yang parah,” ujar Beasley menjelaskan.

Pada 2020, program kemanusiaan di Yaman hanya menerima 1,9 miliar dolar AS dari kebutuhan 3,4 miliar dolar AS.  Pekan lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengumumkan bahwa AS tidak akan lagi mendukung koalisi yang dipimpin Arab Saudi dalam konflik Yaman.

Biden juga membatalkan keputusan mantan presiden Donald Trump yang menunjuk Houthi sebagai organisasi teroris.

Langkah Biden dipuji kelompok-kelompok bantuan yang bekerja di Yaman. Sebelumnya mereka khawatir penetapan Houthi sebagai kelompok teroris akan mengganggu pasokan makanan, bahan bakar, dan barang-barang lainnya yang hampir tidak membuat orang Yaman tetap hidup.

Sejak Maret 2015, Saudi telah melakukan intervensi militer di Yaman. Mereka berupaya menumpas Houthi dan mengembalikan pemerintahan Presiden Abd Rabbo Mansour Hadi yang diakui secara internasional ke tampuk kekuasaan. Saudi memandang Houthi sebagai ancaman karena didukung Iran.

Sejak saat itu, Saudi gencar melancarkan serangan udara ke Yaman. Peperangan telah menyebabkan banyak sekolah, rumah sakit, dan fasilitas publik lainnya hancur. Konflik memicu jutaan warga kelaparan. Akses ke fasilitas atau layanan kesehatan semakin sulit.

PBB telah menyatakan krisis di Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Hingga kini belum ada tanda-tanda konflik Yaman bakal berakhir.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement